epa04973274 A Filipino supporter of the LGBT community wears a rainbow mask while taking part in a protest marking the one-year anniversary of the killing of a transgender woman, allegedly by a US marine, south of Manila, Philippines, 11 October 2015. In a press statement, the LGBT group demanded the immediate conviction of US Marine Pfc. Joseph Scott Pemberton, who has admitted strangling Filipino transgender woman Jennifer Laude, according to media reports. The group also seeks to raise public awareness on the issue of discrimination and hate crimes. EPA/MARK R. CRISTINO

MADURA EXPOSE–Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) meminta aktivis lesbian, gay, biseksual, dan transgender menghentikan kampanyenya. Dalam siaran pers yang diteken Koordinator Presidium Prof Mahfud MD dan Sekretaris Jenderal Ir Subandrio, KAHMI berpendapat penyimpangan seksual, seperti LGBT, adalah problem umat manusia sejak dahulu kala.

Dalam sejarah Nabi Luth AS dan kaumnya, dikisahkan bahwa penyimpangan seksual itu terjadi begitu terstruktur, sistematis, dan masif sehingga dapat dikategorikan sebagai tragedi kemanusiaan.

“Akhirnya, turun azab dari Allah SWT sebagai peringatan bagi umat manusia. LBGT sebagai bagian dari penyimpangan seksual adalah persoalan yang sudah lama menjadi kontroversi di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika,” kata dia dalam rilis, Selasa (16/2).

Namun, belakangan isu ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia karena didorong publikasi yang masif dari kelompok pendukung LGBT akhir-akhir ini. Bahkan UNDP, sebuah lembaga di PBB, mengonfirmasi akan memberikan kucuran dana yang cukup besar tahun ini dalam penanganan LGBT di beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.

“Berbagai kalangan telah memunculkan pendapatnya terkait propaganda LGBT di Indonesia, termasuk dari kalangan intelektual dan tokoh agama. Kenyataannya saat ini eksistensi penyandang LGBT benar adanya, bukan isu atau gosip belaka,” ujarnya.

Para psikolog memberikan pengalaman praktisnya dalam menangani para pengidap LGBT di mana faktor kebiasaan melihat pornografi sangat menonjol memberikan pengaruh terhadap penyimpangan seksual.

“Kondisi sosial kita tidak bisa menerima praktik perkawinan sejenis, baik perempuan dengan perempuan maupun laki-laki dengan laki-laki. Tidak saja secara hukum positif, bahkan hukum agama jelas-jelas menentang perbuatan itu. LGBT mengingkari fitrah manusia,” katanya.

[ANT/ROL]

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM