MADURAEXPOSE.COM, SUMENEP– eberadaan pasar hewan di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto Sumenep hingga kini belum juga ditempati. Padahal, pembangunan pasar hewan tersebut menelan anggaran tidak sedikit.

Dimana, dalam penyampaian laporan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD komisi II DPRD Sumenep tahun anggaran 2019 di sidang Paripurna. Senin (20/7/20) kemarin disebutkan. 

Pendapatan di bidang pengelolaan pasar tidak bisa maksimal bahkan cenderung habis hanya untuk biaya operasional, sehingga perlu dilakukan pengelolaan pasar secara professional agar bisa mendongkrak PAD, atau segera dilakukan langkah-langkah untuk pengelolaannya atau dipihak ketigakan. 

Komisi II DPRD Sumenep meminta keberadaan pasar itu agar segera dievaluasi. Tujuannya, supaya pengelolaan pasar lebih maksimal dan lebih bermanfaat bagi para pelaku usaha jual beli ternak maupun masyarakat sekitar pasar tersebut.

Anggota komisi II DPRD Sumenep Jauhari mengatakan, pihaknya akan terus meminta Dinas terkait agar menciptakan terobosan-terobosan baru sehingga pasar hewan di Desa Pemandangan itu bisa digunakan sebagai mestinya.

“Dengan biaya yang sangat besar sampai hari ini masih belum bisa dimanfaatkan dengan baik, kan percuma,” katanya.

Menurut Politisi PPP dari dapil V itu, Dinas terkait selaku pelaksana anggaran mestinya proaktif dalam mengelola pasar tersebut sehingga dapat mendongkrak PAD.

“Kalau sudah tidak mampu ya angkat tangan atau dipihak ketigakan,” ujarnya.

Sementara itu, usai Paripurna, Bupati Sumenep, KH Abuya Busyro Karim enggan berkomentar terkait keberadaan pasar hewan di Desa Pekandangan itu, dan meminta awak media agar melakukan wawancara terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep, yakni Edi Rasiyadi.

Ironisnya, saat hendak dikonfirmasi, Edi Rasiyadi juga enggan berkomentar.

 “No comment,” ucapnya ketus dan buru-buru masuk ke mobil dinasnya. (Zai/Mem).