Kisah TNI AU cegat pesawat tempur AS di Langit Pulau Bawean Madura

0
1562

Penerbangan yang bertujuan untuk mengidentifikasi visua ini justru disambut panas oleh Hornet.

MADURA EXPOSE–Memperkaya orang lain (abust of power), urusannya tidak hanya masalah anggaran, tapi juga memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum.

Saya tidak mengerti , media bisa menjadi yang baik menjadi buruk dan buruk bisa menjadi baik.
Kabag Humas supay pecah rumha tangga ini segera berakhir.

Tadi saya ditelpon pak wabup, anggaran untuk media sebesar 1,5 miliar untuk tahun 2017.

Pak Kabag Humas apakah ada tenaga IT,
Kabag Humas: Secara spesifik kami belum memiliki tenaga IT . Dan kami mulai melakukan penataan. Namun kalau yang spesifik yang

Benarkah ada media yang belum punya PT. Kami tidak tahu kalau soal itu. Kalau media online.

Saat ini pesawat tempur buatan Lockheed Martin, F-16/Fightng Falcon masih menjadi salah satu andalah di TNI Angkatan Udara. Pesawat ini memiliki sejarah panjang dalam berbagai penugasan. Di antara yang cukup menghebohkan adalah insiden di atas langit Pulau Bawean, Madura, Jawa Timur. Peristiwa ini diulas lengkap dalam buku Insiden di Atas Bawean.

Insiden ini begitu membekas karena melibatkan kekuatan besar, Amerika Serikat. Ketika itu, 3 Juli 2003, radar TNI AU mendeteksi adanya penerbangan gelap. Sempat hilang dari radar, pesawat penerbangan gelap itu kembali muncul dan memperlihatkan manuver tempur.

Hal ini ditindaklanjuti Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dengan mengirimkan dua pesawat F-16/Fighting Falcon untuk terbang melakukan identifikasi visual. Apalagi keberadaan penerbangan gelap itu juga disaksikan penerbangan sipil, sehingga membahayakan penerbangan di rute itu.

Setelah beberapa saat mengudara, pesawat F-16 TNI AU berhasil mendeteksi pesawat dalam penerbangan gelap. Mereka ternyata adalah 5 pesawat F/A 18 Hornet milik Amerika Serikat. Jet tempur AS ini diterbangkan dari kapal induk kelas Nimitz, USS Carl Vinson yang berlayar dikawal dua fregate dan sebuah kapal perusak.

Dua pesawat itu masing-masing diawaki Kapten Pnb Ian Fuadi/Kapten Pnb Fajar Adrianto dan Kapten Pnb Tony Heryanto/Kapten Pnb Satro Utomo. Penerbangan yang bertujuan untuk mengidentifikasi visua ini justru disambut panas oleh Hornet. Pesawat AS itu melakukan jamming radar pesawat F-16, bahkan juga mengunci (lock on) pesawat F-16 TNI AU.

Namun, para penerbang F-16 TNI AU mampu mengatasi perang ECM (Electronic Counter Measure) yang dilancarkan Hornet. Kedua F-16 mengatasinya dengan menghidupkan perangkat anti-jamming kemudian memasang alatnya pada mode otomatis sehingga usaha untuk menutup “mata” F-16 tidak berhasil dilakukan Hornet. Bukannya merasa bersalah, AS kembali menerbangkan Hornet lain dari kapal induknya.

Sikap bermusuhan ini mereda setelah salah satu F-16 TNI AU berhasil melakukan manuver rocking the wing (menggerak-gerakkan sayap), isyarat internasional bahwa pesawat tidak mengancam. Selanjutnya komunikasi bisa berjalan lancar. “Hornet…Hornet. We are Indonesia Air Force…” ucap salah seorang pilot.

Komunikasi ini dijawab Hornet dengan klaim bahwa mereka terbang di wilayah perairan internasional dan meminta agar F-16 TNI AU menjauh. “We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International water, stay away from our warship.”

Dari kejadian ini, pemerintah akhirnya melancarkan protes ke AS karena angkatan perang mereka memasuki perairan Indonesia tanpa izin. Kejadian ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa TNI Angkatan Udara tidak pernah gentar dalam menghadapi ancaman negara.

(brl/pep)