Khawatir Anjlok, Dispertahortbun Minta Petani Tak Terlalu Banyak Tanam Tembakau

0
70
Ilustrasi/Net

Dinas Pertanian Holtikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep menghimbau para petani agar tidak terlalu banyak menanam tembakau musim kemarau tahun ini. Pasalnya, harga tembakau pada tahun 2020 ini diprediksi kurang optimal.

Kepala bidang perkebunan Dispertahorbun Sumenep Rina Suryandari mengungkapkan, pihaknya telah menerima surat dari salah satu perusahaan rokok, yakni PT. Bentoel Prima.

“Isi surat tertulis bahwa perusahaan tersebut tidak akan melakukan pembelian tembakau pada musim kemarau tahun ini,” ungkapnya.

Berdasarkan surat tersebut, Dispertahorbun Sumenep mengimbau pada petani untuk tidak terlalu banyak menanam tembakau, sebab, dengan absennya salah satu pabrik rokok untuk membeli hasil panen tembakau dari petani akan mempengaruhi harga.

“Apalagi saat ini masih dalam keadaan pandemi Covid-19.” katanya, Kamis (30/7/20).

Menurut Rina Suryandari, absennya perusahaan rokok tersebut disebabkan stok tembakau yang ada di Pabrik PT. Bentoel Prima masih relatif banyak.

Selain itu, lanjut dia, adanya kebijakan pemerintah tentang kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35%, mempengaruhi kebijakan perusahaan dalam menentukan pembelian tembakau petani .

“Kami sempat mengumpulkan pabrikan, mereka tidak menyebutkan angka untuk mengambil atau tidak. Yang pasti satu pabrik tidak mengambil, kalau pabrik yang lain belum ada kepastian, yang jelas mereka tidak akan membeli tembakau petani sebanyak dulu,” terangnya

Ia menjelaskan, tahun ini ploting area dan target serapan tembakau mencapai 7.956 Hektare. Sedangkan ploting area tanaman tembakau tahun 2019 lalu, mencapai 4.337 hektare. Artinya petani Sumenep melampaui target dalam menanam tembakau.

“Tahun ini telah melebihi target tanam tembakau jika dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar 30 persen,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya megimbau agar petani tembakau Sumenep membatasi jumlah tanaman yang sudah ada dan tidak menanam lagi.

“Kalau respon masyarakat bermacam-macam, kita tetap sosialisasikan dengan keadaan, yang kita jaga kan harga. Jika banyak petani yang menanam tapi anjlok, kan kasihan,” pungkas Rina Suryandari. [mm]