Ketum DMI: Bedakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Radikalisme

Terbit: 19 Februari 2020 | 20:53 WIB

Maduraexpose.com – Masyarakat Indonesia harus berpikir dewasa dengan membedakan antara amar ma’ruf nahi mungkar dan radikalisme. Jangan sampai khatib dan da’i sedang mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar di masjid, tapi justru disangka bertindak radikal.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla,  pada Sabtu (15/2) sore, tepatnya saat memberikan kata sambutan dalam prosesi Penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Halaqah Khatib Indonesia di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan.

“Nanti, khatib yang sedang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di masjid justru dikira bertindak radikal. Masjid bukanlah sarang teroris atau pun pusat perencanaan aksi terorisme,” katanya seperti dikutip dari laman resmi dmi.or.id.

Dalam sejumlah kasus terorisme di Indonesia, lanjutnya, pusat radikalisme justru terjadi di rumah kontrakan para pelaku teror, bukan di masjid. Termasuk dalam peristiwa penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukkam) RI 2014–2019, Jenderal Wiranto (Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto, S.H., S.I.P., M.M.

“Biasanya, yang merencanakan bom itu di rumah kontrakan, bukan di dalam masjid. Termasuk waktu kasusnya Pak Wiranto itu pun rencana terornya berlangsung di rumah kontrakan, tidak di masjid,” tutur Wapres RI 2004-2009 dan 2014-2019 itu.

Dalam acara penutupan tersebut, H. Muhammad Jusuf Kalla didampingi oleh Wakil Ketua Umum PP DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., Ketua PP DMI, Drs. KH. Abdul Manan A. Ghani, dan Ketua Umum Majelis Pimpinan Pusat (MPP) IK DMI, Dr. KH. Muhammad Hamdan Rasyid, M.A.

Turut hadir Wakil Ketua Umum MPP IK DMI, Dr. H. Munawar Fuad Noeh, M.Ag., yang juga Direktur Program PP DMI. Acara penutupan ini juga diisi oleh sejumlah narasumber, yakni Wakil Ketua Umum PP DMI, Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi (Pol). Purnawirawan (Purn). Drs. H. Syafruddin, M.SI.

Narasumber lainnya ialah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., Waketum PP DMI, KH. Masdar Farid Mas’udi, dan Staf Khusus Wapres RI Bidang Umum, Prof. Dr. H. Masykuri Abdillah, M.A. [hid/V-Is]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *