Scroll untuk baca artikel
RANAH PESANTREN

Ketum DMI: Bedakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Radikalisme

Avatar photo
137
×

Ketum DMI: Bedakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Radikalisme

Sebarkan artikel ini

Maduraexpose.com – Masyarakat Indonesia harus berpikir dewasa dengan membedakan antara amar ma’ruf nahi mungkar dan radikalisme. Jangan sampai khatib dan da’i sedang mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar di masjid, tapi justru disangka bertindak radikal.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla,  pada Sabtu (15/2) sore, tepatnya saat memberikan kata sambutan dalam prosesi Penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Halaqah Khatib Indonesia di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan.

“Nanti, khatib yang sedang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di masjid justru dikira bertindak radikal. Masjid bukanlah sarang teroris atau pun pusat perencanaan aksi terorisme,” katanya seperti dikutip dari laman resmi dmi.or.id.

Dalam sejumlah kasus terorisme di Indonesia, lanjutnya, pusat radikalisme justru terjadi di rumah kontrakan para pelaku teror, bukan di masjid. Termasuk dalam peristiwa penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukkam) RI 2014–2019, Jenderal Wiranto (Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Wiranto, S.H., S.I.P., M.M.

“Biasanya, yang merencanakan bom itu di rumah kontrakan, bukan di dalam masjid. Termasuk waktu kasusnya Pak Wiranto itu pun rencana terornya berlangsung di rumah kontrakan, tidak di masjid,” tutur Wapres RI 2004-2009 dan 2014-2019 itu.

Dalam acara penutupan tersebut, H. Muhammad Jusuf Kalla didampingi oleh Wakil Ketua Umum PP DMI, Drs. KH. Masdar Farid Mas’udi, M.Si., Ketua PP DMI, Drs. KH. Abdul Manan A. Ghani, dan Ketua Umum Majelis Pimpinan Pusat (MPP) IK DMI, Dr. KH. Muhammad Hamdan Rasyid, M.A.

------------------------