Catatan Ferry Arbania, Wartawan Memorandum

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Catatan kecil
Ferry Arbania, Direktur/Pemred Madura Expose

Bbeberapa waktu lalu nama Jumahwi menjadi sangat popular dikalangan awak media yang tiap harinya mangkal di kantor DPRD Sumenep.

Apa pasal? pada saat pelaksanaan Ujian Nasional beberapa waktu lalu, sejumlah wartawan di Sumenep, salah satunya Abdussalam dan beberapa wartawan cetak dan elektronik mengkonfirmasikan beberapa hal terkait nama siswa yang berkaitan dengan pelaksanaan UN.

Saat konfirmasi ke Ahmad Sadhik, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, seperti diceritakan Abdussalam, di Kepala Dinas malah Aswab alias asal jawab dengan menjawab pertanyaan wartawan sekenanya saja, “nama siswa itu Jumahwi”, kata Abdussalam, Reporter Radio Nada menirukan jawaban Ahmad Shadik, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep yang aswab.

Hingga kini, nama Jumahwi itu menjadi topic bahasan dan sindirian yang masih beredar dikalangan wartawan dan LSM. Padahal nama Jumahwi tak pernah ada dalam catatan Ujian Nasional di Kabupaten Sumenep. Beruntungnya, wartawan tidak langsung menulis nama Jumahwi yang disebutkan Kepala Dinas Pendidikan, karena nama siswa itu memang tidak ada.

Entah kenapa seorang Kepala Disdik asal jawab begitu tanpa merasa perlu mengecek data peserta Ujian Nasional. Atau jangan-jangan nama Jumahwi ‘diutus’ kedunia melalui ucapan Ahmad Shadik menjadi pelengkap semrautnya pelaksanaan Ujian Nasional 2013 secara global.

Entahlah, yang jelas sebagai masyarakat Sumenep, terus terang saya merasa ikut malu dengan tindakan Kepala Dinas Pendidikan yang asal jawab dan mohon maaf, kalau sampai ditulis akan dimedia_nama Jumahwi_itu pasti akan sangat memalukan dan pastinya fiktif, karena memang tak ada siswa peserta Ujian Nasional bernama Jumahwi.

“Wah, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep itu Pak Jumahwi ya?’, sindir salah satu wartawan yang baru sebulan menekuni profesi jurnalistik dan kebetulan tidak tau nama Kepala Dinas Pendidikan yang baru aliaspengganti Ahmad Masuni.

Masalah ini, kemudian diadukan langsung ke Bupati Sumenep, Wabup, Sekda, dan beberapa pejabat saat pertemuan khusus antara Bupati dengan kalangan wartawan dirumah dinas bupati, baru-baru ini.

Semoga dengan tulisan ini, kebiasa asal jawab dari Dinas Pendidikan Sumenep menjadi pelajaran penting kedepan agar lebih respect terhadap persoalan pendidikan.

Jangan hanya angguk-angguk kepalad diatas meja. Dan seharusnya, seperti saran Bupati, seorang Kepala Dinas dilarang ‘alergi’ terhadap wartawan. Pejabat dan wartawan harus berani membuka komunikasi dan kerjasama yang lebih penting untuk kemajuan Sumenep kedepa.

Semoga tak ada kepala Dinas yang lain yang ikut-ikutan asal jawab. Jangan sampai ada Jumahwi lagi di era kepemimpinan Super Mantap ini.

Terimakashi untuk KH. Busyro Karim, yang telah memberi kesempatan media ini berbicara apa adanya, termasuk meluruskan Jumahwinya Kepala Dinas Pendidikan Sumenep yang kebablasan. (*)

ferry.arbania@gmail.com


Sumber: Koran Harian Memorandum Surabaya