Kematian: Iringi dengan Do’a, Jangan Tangisi

0
872

Kematian, ialah suatu kejadian yang tak pernah diinginkan, hanya beberapa orang saja yang siap menghadapi kematian dan siap ditinggalkan. Namun, sebagai manusia yang memiliki banyak realita cerita dunia, memiliki banyak alasan jika ditanya tentang kematian.

Begitupun ketika kita ditinggalkan, merasa kehilangan, sedih, terpuruk, bahkan sampai jatuh sakit. Sering kita jumpai, ketika ada seseorang yang wafat, tangisanlah yang menjadi pusat perhatian. Merasa belum siap untuk ditinggal pergi selama-lamanya, merasa dia masih diperlukan di sekitar kita dan masih banyak lagi.

Ketahuilah, seandainya jenazah bisa berbicara, ia akan melarang kita untuk meneteskan air mata. Bukan itu yang mereka butuhkan, bukan tangisan yang mereka inginkan, melainkan iringan do’a, untaian kata yang indah untuk mengiringi kepergiannya menuju tempat yang abadi.

Imam Ghazali berkata: “Demi Allah,seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri.”

Memang sedih dan terpukul ketika seseorang yang kita sayangi, kita kasihi pergi dengan begitu tiba-tiba. Namun, kita juga harus ingat, bahwa kitapun akan segera kembali kepada-Nya entah kapan dan bagaimana. Pun akan meninggalkan orang-orang yang kita kasihi. Peristiwa kematian bukan untuk melemahkan iman dengan mengiringi jenazah dengan deretan suara tangisan, melainkan menjadi sebuah pengingat, bahwa usia tiada yang tahu kapan akan usai.

Rasulullah SAW bersabda: “Talkin (tuntun)-lah orang yang hendak meninggal dengan Laa Ilaaha Illallaah, dan berilah kabar gembira dengan surga. Sesungguhnya orang yang mulia, dari kaum laki-laki dan wanita kebingungan dalam menghadapi kematian dan diuji. Sesungguhnya setan paling dengan manusia pada saat kematian. Sedangkan melihat malaikat maut lebih berat daripada seribu kali tebasan pedang.” (HR. Abu Nu’Aim)

Oleh karena itu, ingatlah selalu untuk menuntun mereka yang tengah berproses melepaskan nyawa dari raga. Bisikkan kata indah, bahwa dengan kepergiannya kita semua tetap akan baik-baik saja, ucapkan kalimat Illahi di hadapannya. Katakan bahwa ia adalah manusia yang baik budi akhlaknya dan akan Allah balas dengan cara yang indah. Berikan senyuman terindah untuk mengiringi kepergiannya beserta do’a-do’a. Bukan tangisan yang hanya akan membuatnya menderita. Bukan berarti kita bahagia melepaskan mereka kembali kepada pemiliknya, namun lebih kepada kita ikhlas untuk menerima semua keputusan-Nya.

Sedikit menyuguhkan kisah yang diceritakan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, dalam Tarikh Bagdad. Untuk sekedar saling mengingatkan bahwa menuntun mereka yang sedang mengalami sakaratul maut itu perlu.

Abu Ja’far Tusturi mengatakan, “kami pernah mendatangi Abu Zur’ah Al-Razi dalam keadaan sakaratul maut di Masyahron. Di sisi Abu Zur’ah terdapat Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al-Munzir bin Syadzan dan sekumpulan ulama lainnya. Merekaingin mentalqin Abu Zur’ah dengan mengajari hadits talqin sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Talqinkanlah (tuntunlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan: ‘Laa ilaha illallah.’” (HR. Muslim)

Namun mereka malu dan takut pada Abu Zur’ah untuk mentalqinkannya. Lalu mereka berkata: “Mari kita menyebutkan haditsnya (dengan sanadnya/jalur periwayatannya).”

Muhammad bin Muslim lalu mengatakan, “Adh-Dhahak bin Makhlad telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih.”

Kemudian Muhammad tidak meneruskannya. Abu Hatim kemudian mengatakan, “Bundar telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih.” Lalu Abu Hatim juga tidak meneruskannya dan mereka semua diam.

Kemudian Abu Zur’ah yang berada dalam sakaratul maut mengatakan, “Bundar telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, (beliau berkata), dari Abdul Hamid bin Ja’far, (beliau berkata), dari Shalih bin Abu ‘Arib, (beliau berkata), dari Katsir bin Murrah Al-Hadhramiy, (beliau berkata), dari Mu’adz bin Jabal, (beliau berkata), bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang akhir perkataanya adalah ‘la ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Setelah itu, Abu Zu’raf r.a langsung meninggal dunia. Beliau meninggal pada akhir bulan Dzulhijah 264 H. Betapa di akhir nafasnya, Abu Zur’ah menutupnya dengan kalimat syahadat la ilaha illallah. Bahkan beliau mengucapkan kalimat tersebut sambil membawakan sanad dan matan hadits, yang hal ini sangat berbeda dengan kebanyakan orang-orang yang berada dalam sakaratul maut.

Allahu Akbar, betapa bahagianya sahabat, jika dalam perjalanan temui sang pemilik raga diiringi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Yuk mari kita rubah kebiasaan masyarakat yang mengiringi kepergian dengan tangisan menjadi iring-iringan do’a. Karena sesungguhnya, tangisanmu tak akan merubah apapun dan juga tak akan memberi manfaat apapun kepada ia yang telah berpulang. Iringilah dengan do’a, tuntunlah dengan do’a, seraya ketuk hati ini, sudahkah kita siap menghadapi kematian? Cukupkah amal yang kita miliki untuk meraih surga-Nya? Kematian orang terkasih merupakan suatu alarm, pengingat bahwa semua manusia akan kembali kepada-Nya.

Semoga bisa mengambil sedikit manfaat dari kisah yang saya jabarkan di atas. Bahwa mengiringi jenazah dengan do’a itu lebih utama daripada sebuah tangisan.

Saya menulis ini bukan bermaksud untuk menggurui, tapi hati yang meminta saya untuk saling meningatkan sesama. Sekali lagi, mati datang tak pernah permisi, jadi persiapkanlah sedari dini.

[syahid/voa-islam]