Jelang Semester Genap, Raudlatul Iman Lakukan Rapat Kebersamaan dan Launching Buku

0
204

Sumenep (Maduraexpose.com) – Raudlatul Iman dengan gairah baru gelar pertemuan dewan guru dan kepala satuan pendidikan di Lingkungan Yayasan Raudlatul Iman dari tingkat PAUD sampai MA / SMK dengan tema “Togetherness School of Sosis” yang dihadiri seluruh kepala, dewan guru, majelis Yayasan / Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Iman di Auditorium Raudlatul Iman Gadu Barat Ganding Sumenep Sabtu 25/12/2021

Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam itu menjadi lebih menarik dan menggairahkan dari sebelumnya, karena bahasan di dalamnya bukan sekedar menyangkut kegiatan rutinitas yang menjadi target lembaga, tetapi lebih jauh mengusung paradigma baru yang disebut RAUDLATUL IMAN SIGAP (Semangat, Inovatif, Gigih, Apresiatif dan Perfect)

K. Sahli Hamid, M.Pd.I, Ketua Umum Yayasan Raudlatul Iman sebagai pembicara dalam pengarahannya mengajak seluruh pemangku, pengelola, dewan guru dan seluruh warga madrasah agar merubah pola pembelajaran yang selama ini sangat normatif menjadi lebih menarik dan mengasyikkan.

“Pendidikan atau majelis ilmu itu digambarkan Nabi SAW sebagai taman surga (Riyadhul Jannah), sehingga di dalamnya harus mencerminkan keindahan dan kesenangan. Di sinilah guru hadir sebagai penggembira dengan menunjukkan keceriaan di depan anak didiknya. Jadi anak didik jika ingin berprestasi dan sukses wajib hukumnya menjadikan atmosfer pembelajaran menjadi sangat menyenangkan, menghadirkan inovasi dan kebermaknaan. Ini makna sebenarnya dari Togetherness School of Sosis yaitu Sekolah Kebersamaan untuk Sekolah Simpatik dan Sejahtera” tutur beliau dengan gaya bahasa yang khas.

Beliau menceritakan bahwa selama ini telah memulainya bersama anak didiknya, bahkan hal itu ia praktekkan dalam kehidupan keluarganya. Ternyata hasilnya cukup positif membuat anak lebih bergairah dan betah dalam belajarnya.

“Lahirnya buku kecil Togetherness School of Sosis : Kontekstualisasi Kebermaknaan Pendidikan, sesungguhnya hasil perenungan yang mendalam, karena selama ini pembelajaran sepertinya hanyalah formalitas untuk mengisi kekosongan dan fokus pada nilai raport. Seperti ada jurang pemisah dan tembok tinggi antara guru dan murid, maka jarak itu harus kita tiadakan dengan menjadikan anak terus merasakan kebahagian dan pada akhirnya anak selalu merindukan sekolahnya karena tidak ada keterpaksaan” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.

Dalam rapat tersebut, buku beliau sekaligus dilaunching sebagai pedoman arah pendidikan baru di Raudlatul Iman. Selanjutnya dewan kepala juga menyampaikan pokok pikirannya melengkapi apa yang disampaikan ketua yayasan tentang sekolah kebersamaan agar pendidikan di tingkatan masing-masing, terus maju dan berkembang. (Fathol Bari)