MASIHKAH ENGKAU SALAHKAN IBLIS?
Oleh: AINUL YAQIN*
Sangat ironis sekali bagi sesosok iblis dan syetan selalu dikambing hitamkan ketika manusia melakukan perbuatan dosa, ketika ditegur dengan gampang mereka bilang “aduuh karena disusupi syetan/iblis” , “lagi kalah sama syetan/iblis” dan sapaan “kamu dasar iblis” terlontar ucapan diatas karena mereka melakukan hal jelek dan keji keluar dari ketentuan syariat agama, padahal mereka sudah diberi akal untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Sejarah mencatat kesalahan Iblis hanya satu kali disaat membangkang atas perintah Allah SWT. untuk tunduk dan menghormat terhadap Adam. Sementara manusia merasa masih lebih baik dari pada iblis dan syetan padahal mereka melakukan kesalahan berkali-kali, kesalahan merekapun bermacam-macam tidak hanya sombong atau egois.

sebagaimana iblis disaat membangkang akan tetapi kesalahan manusia mulai dari ingkar janji terhadap ikrarnya sendiri ketika doa iftitah setelah takbirotul ihram dalam sholat _menyatakan kalau semua bentuk ibadahnya, mati dan hidupnya semata-mata hanya untuk Allah. Namun nyatanya manusia banyak yang mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah_ belum lagi sifat ketamakan, kebohongan yang dilakukan berkali kali serta masih banyak kesalahan lainya yang terbiasa enteng dilakukan manusia.

Dr. Afif Hasan menulis sebuah kalimat dalam salah satu bukunya yang berjudul Pendidikan Holostik, sebuah pernyataan anak keturunan Iblis/Syetan yang bisa diterima akal yaitu menyatakan;

“Manusia yang berzina, yang enak dia. Dia korupsi yang menikmati hasilnya dia juga, tetapi kami selalu disalahkan setiap musim haji kami dirajam jutaan manusia di sumur-sumur jamarat, padahal yang melempar itu ada kami juga.”

Anehnya perilaku manusia yang demikian itu masih merasa bahwa dirinya tidak bersalah, karena yang disalahkan hanyalah iblis dan keturunannya yaitu syetan padahal sebagai manusia kita telah diberikan akal untuk memilah dan memilih suatu kebenaran yang ada.

Maka janganlah heran jika ada lagi dalam sebuah buku yang menuliskan tentang Iblis dan keturunannya (syetan) mengajukan pensiun dini untuk menggoda manusia mengajak kemungkaran, karena nota beninya manusia saat ini lebih cerdik, pintar dan pandai dari pada Iblis.

Manusia bisa bermain HP yang didalamnya diisi dengan Film yang mengajak keneraka, bisa membuka situs web dan browsing hal-hal yang membawa kemaksiatan sementara iblis tidak bisa mengenal dan mengoprasikan HP dan internet. Manusia juga dengan kepandaian aplikasi akuntansinya bisa bermain angka untuk melakukan korupsi drngan hanya membuang satu angka.

Sementara Iblis tidak bisa berakuntansi, pernyataan konyol seperti ini diterima akal walaupun tidak diterima akidah. dengan pernyataan tersebut manusia haruslah intropeksi diri kalau manusia notabeninya terkadang lebih jelek dari mahluk yang paling hina (Iblis atau sejenis hewan yang tidak dimulyakan syara’), walaupun adakalanya disisi lain akan lebih mulya dari pada malaikat seperti nabi Muhammad.

Banyak tafsir klasik yang menggunakan metode Tahlili seperti tafsir Ibnu Abbas, Ibnu jarier at-Thabari dan lainnya mengisahkan sejarah Iblis yang asalnya adalah sesosok Jin yang diciptakan Allah menggunakan Api Samum sejak ribuan tahun jauh sebelum manusia diciptakan.

Setalah Jin tercipta kemudian disuruh menghuni bumi untuk beribadah sampai pada ahirnya para malaikat kagum dengan ibadahnya kaum Jin di muka bumi dan meminta Jin yang taat beribadah untuk diangkat kelangit dan keseluruh tujuh lapisan langit.

Kemudian Allah SWT. memberi gelar terhadap jin tersebut dengan gelar Azazil sebagai hadiah prestasi Ibadah dan ketaatannya, ibadahnya Azazil dikagumi semua malaikat sehingga menjadi tempat para malaikat untuk mempertimbangkan persoalan dan tempat menyampaikan doa-doa para malaikat kepada Allah.

Ibadah dan ketaatan Azazil menurut Hasan al-Bashri lebih dari 70.000 tahun dari masing-masing tujuh lapisan langit sampai ia diangkat ke maqam Ridwan yaitu sebuah tempat yang sangat tinggi yang dijaga oleh malaikat Ridwan.

Kisah azazil banyak dikutip dalam Tafsir Klasik seperti tafsir Ibnu Abbas 1:304-305, Al-Qurthubi 1:294-295 dan At-Thabari 1:502-503 dan ulamak bersepakat bahwa Azazil adalah sesosok Jin yang puluhan ribu tahun taat beribadah sampai mencapai pada tingkat Mahabbatullah dan bahkan menjadi teman malaikat Ridwan di syurga. Namun sangat ironis sekalagi atas kehendak Allah yang maha mengatur semuanya dan dengan kesucian sifat dan kekuasaanNYA Azazil yang taat puluhan ribu tahun diturunkan pangkatnya menjadi Iblis.

Sesosok Azazil hanya melakukan satu kesalahan yaitu membantah terhadap perintah Allah untuk menyembah Adam sebagai bentuk penghormatan. Ahirnya Azazil tersebut di turunkan derajatnya oleh Allah menjadi sesosok mahluk yang bernama Iblis yang artinya salah satu hamba Allah yang diputus rahmatnya.

Kenapa Iblis membantah atas perintahNYA sebuah alasan yang logis untuk sesosok Iblis, sebagai hamba Allah yang Ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun beribadah sudah ada di maqam yang paling tinggi menjadi salah satu tempat pengaduan para malaikat kepada Allah sehingga Azazil merasa Egois bahkan Sombong karena merasa sangat dekat dirinya kepada Allah dan selalu diterima doanya.

Sebagai manusia yang di karuniahi akal dan fikiran untuk memilah dan memilih suatu hal antara kebaikan dan keburukan ternyata kesalahan kita sebagai manusia tidak hanya satu kali merasa sombong baik sombong karena bersetatus sebagai kyai yang dihormati lingkungannya, sombong karena Ilmu, harta dan kepandaiannya dan itupun dilakukan berkali-kali dan bahkan tidak hanya sombong yang sering kita lakukan termasuk Syirik baik Syirik Khofi maupun Jali sementara Azazil yang di Vonis menjadi Iblis tidak pernah Syirik.

Salah satu keistimewaan Iblis dari pada manusia adalah kejujurannya ketika setelah divonis menjadi mahluk Allah yang paling dimurkai, Iblis memohon dan pamitan atau minta ijin kepada Allah untuk mengajak anak cucu Adam membangkang kepadaNYA dan masuk ke neraka.

Hal ini menunjukan sifat kejujuran dan akhlak kepada Allah sebelum bertindak melaksanakan aksinya, sementara manusia yang merasa lebih baik dari pada Iblis kali ini belum pernah ada yang permisi dan minta izin kepada Allah untuk melaksanakan perbuatan kejinya.

Bahkan merasa bangga dengan perbuatan maksiat yang dikerjakan sehingga di uploud ke medsos untuk memamerkan perbuatan kejinya, masihkan manusia merasa lebih baik dari pada iblis yang tidak pernah Syirik, Mencuri, Berzina, Minum Khamer, Sombong dan Dhalim serta perbuatan keji lainnya!?.

Kesalahan Iblis hanya satu, yaitu Sombong atau mengedepankan Egoisnya.
Keistimewaan Iblis yang tidak tertandingi oleh manusia yaitu menjadi hamba yang yang taat dan tunduk beribadah puluhan ribu tahun sehingga dari status sebagai Jin diangkat sederajat dengan para malaikat penunggu syurga.

Sementara kita sebagai manusia hidup di dunia untuk melaksanakan ketaatan dan beribadah kepada Allah hanya terhitung puluhan tahun, sampai kita merasa bangga dengan Ibadah kita, sehingga merasa syurga di kavling sebagai milik kita yang sudah dibeli dengan Ibadah dan pengabdian kita kepada Allah!?.

Ustadz Ainul Yaqin
*)Aktivis Pesantren dan dosen STIDAR (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman) Sumenep, Madura, Jawa Timur.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Editor: Ferry Arbania