Salam Diplomasi. Bapak Chappy Hakim, Presdir PT Freeport Indonesia ini berlebihan, beliau bentak dan tunjuk-tunjuk anggota DPR RI. Kejadian ini saat Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI, pada (09/02/2017). Ini dihadapan orang banyak, di kantor DPR, bukan di kantor PT Freeport.

Beliau lupa, kalau DPR RI mewakili rakyat. Selama ini, kita banyak terinspirasi dengan tulisan-tulisan Pak Chappy di berbagai media, kita tentu kaget dan menyayangkan kejadian ini. Beliau sudah minta maaf, kita apresiasi. Namun arogansi perusahaan ini tidak boleh terulang, baik dalam perkataan, perbuatan maupun kebijakan.

Freeport itu Perusahaan Tambang asal Amerika Serikat, tidak hanya harus taat aturan, namun harus menjunjung tinggi etika jika berusaha disini. Pemerintah Indonesia jangan minder apalagi kalah dalam bernegosiasi dengan Freeport. Oleh sebab itu:

1/ Rapat Dengar Pendapat antara PT Freeport dengan DPR RI dapat disaksikan secara langsung oleh rakyat Indonesia. Agar terang, apa sebenarnya untung rugi kita kasih izin Freepot berusaha di Indonesia ini. Jika untung, lebih banyak untung mana, mereka atau NKRI ini?. Saya yakin hampir semua orang tidak tahu ini.

2/ Kerugian negara akibat korupsi itu besar, tapi kerugian negara akibat kalah dalam berdiplomasi, bernegosiasi itu jauh lebih-lebih sangat besar. Oleh karena itu, selain melawan korupsi, kita juga harus fokus mencegah terjadinya kekalahan dalam negosiasi. Jangan sampai perjanjian Indonesia dengan negara lain, atau pihak swasta itu manis di awal, pahit setelahnya. Maksudnya, seakan perjanjian itu menguntungkan Indonesia, padahal hanya 5-10 tahun, tapi setelahnya merugikan Indonesia selama-lamanya hingga anak cucu kita.

3/ Mengapresiasi sebesar-besarnya sikap kritis Anggota DPR, Muktar Tompo, dan mengapresiasi sebesar-besarnya permintaan maaf Pak Chappy Hakim. Namun, kami menyayangkan pihak-pihak, apalagi anak bangsa Indonesia yang malah membela PT Freeport.

4/ Pemerintah, siapapun juga harus menangkap semangat zaman, sekarang semangatnya anak-anak muda Indonesia ini adalah melihat Indonesia ini berdaulat, itu sebab, ketika Bu Susi Pudjiastuti berani mengusir kapal-kapal asing, ia dengan cepat memenangkan hati dan pikiran kaum muda. Anak-anak muda kreatif di dalam dan luar negeri yang jiwanya bebas, tidak suka melihat pemimpin yang terlalu kompromis dan bertekuk lutut terhadap asing. Termasuk dengan Freeport.

5/ Kebhinekaan dan Kedaulatan bagaikan dua sisi mata uang, ia berjalin berkelindan, tak bisa dipisahkan. Bicara kebhinekaan, sebaiknya diteruskan dengan juga bicara kedaulatan. Mari Pertahankan, perjuangkan kebhinekaan dan kedaulatan.

Salam Diplomasi
Jakarta, 11/02/2017
Hariqo Wibawa Satria
(Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi)