Hijabers Cantik yang Hobi Naik Gunung

0
1209
Foto: (siska_kusmayanti/Instagram)

MADURAEXPOSE.COM– Hijabers cantik banyak yang hobi naik gunung. Tak sedikit pula yang tetap tampil stylish saat sedang berjuang menuju ke puncak gunung.

Siska Kusmayanti (24) misalnya, wanita berhijab kelahiran Cianjur yang kini tinggal di Bandung, berbagi cerita dengan detikTravel, Kamis (16/3/2017), mengenai hobi naik gunung dan bagaimana menjaga penampilan stylish namun tetap aman buat mendaki.

Wanita yang akrab disapa Chika ini cukup populer di Instagram dengan akun @siska_kusmayanti. Followers-nya kini telah mencapai 145 ribu. Kebanyakan Chika mengunggah foto dirinya saat mendaki gunung. Ia sudah jatuh cinta dengan aktivitas naik gunung sejak sekitar tahun 2014.

“Pertama kali naik gunung 2014, Gunung Lawu Jawa Tengah. Ternyata naik gunung bikin nagih,” kata Chika.

(siska_kusmayanti/Instagram)

Saat mendaki, Chika memilih mengenakan kerudung yang bahannya tak mudah kusut. Untuk modelnya pun tidak yang ribet. Yang penting simpel dan nyaman dikenakan ketika menanjak medan yang tak mudah menuju puncak gunung.

“Aku biasanya jilbabnya kalau mendaki gunung yang simple. Jilbabnya yang nggak mudah kusut, pakai jarum langsung taliin ke belakang,” tutur wanita kelahiran tahun 1992 ini.

Kemudian untuk warnanya disesuaikan dengan baju atau celana. Kalau tak mau bawa banyak namun tetap banyak pilihan motif atau warna buat foto-foto, Chika pun punya triknya.

“Kalau nggak mau banyak bawa kerudung, ada yang bisa bolak-balik motif beda, satu kerudung bisa dua motif. Jadi kalau pas difoto nggak satu motif doang di satu gunung itu,” jelas Chika.

Kemudian untuk jaket, tak selalu warnanya harus match. Karena memang tak dipakai setiap saat. Ketika berfoto jaket bisa sementara dilepas, tergantung keinginan traveler.

(siska_kusmayanti/Instagram)

Untuk pelengkap, tentu ada aksesoris yang bisa dibawa. Seperti topi, slayer, hingga buff. Menurut Chika, buff kebanyakan dikenakan pendaki yang tidak berhijab, tapi buat yang berhijab juga tetap bisa memakainya.

“Mungkin buff bukan dipakai kepala tapi di leher, berfungsi juga sebagai masker. Kalau gunung yang bayak debu si buff bisa jadi masker, bisa dipakai di tangan,” jelas Chika.

rdy/fay/dtk)