MADURA EXPOSE—Predikat guru yang melekat pada RS tak pantas disandang. Oknum guru perempuan di salah satu SMK di Kota Palu, kedapatan berbuat tindakan amoral di tempat umum.

Peristiwa ini terjadi di salah satu cafe di Kampung Nelayan Kota Palu, tengah malam pekan lalu.

Penuturan pemilik cafe, sekitar pukul 01.00 malam saat suasana mulai sepi. Namun di salah satu gasebo, masih ada RS dan seorang pemuda brondong. Mereka sejak pukul 20.00 Wita telah duduk santai. Lan pemilik cafe mulai curiga. Lantaran RS dan pasangan hanya duduk tapi tak memesan makanan atau minuman sama sekali.

Karena waktu sudah semakin larut, Lan memerintahkan keponakannya bernama Renol untuk mengatakan cafe akan tutup.

Renolpun menghampiri gasebo yang berjarak sekitar 10 meter dari kasir.

Saat mendekat, Renol terperanjat malu. Matanya terbelalak memergoki RS sedang mengisap “burung” (maaf kemaluan pemuda pria, red) yang tidak diketahui namanya itu.

Sontak kedua pengunjung berbeda usia, langsung kaget dan pemuda itu tak bisa bicara apa-apa.

Pada saat itu juga suara tangis RS pun mulai terdengar. Kata maaf terus terucap dari mulut RS. Sehingga Renol mengajak RS bersama pasangannya untuk keluar dari gasebo. Lan yang pada saat itu berada tak jauh dari gasebo langsung menghampiri dan menasehati RS.

“Ingat umur, ibu ini sudah tua, masa masih berperilaku seperti itu. Sadar bu, seharusnya ibu bertobat,” ujar pria berumur 50 tahun itu.

Nasehat Lan itu justru membuat RS semakin takut, dan meminta agar Lan tidak memberitahukan peristiwa itu.

Namun pada saat itu ada empat orang yang mengetahui kejadian itu termasuk bibi dan sepupu Renol.

RS meminta pemuda mahasiswa salah satu perguruan tinggi itu untuk pulang. Setelah pemuda itu pulang menggunakan motor jenis matik.

RS meminta Renol untuk mengantarnya pulang. Belum sempat naik di atas motor, RS menyerahkan kartu kredit kepada Renol dan menjanjikan uang senila Rp2 juta sebagai tanda damai.

Tindakan RS membuat Renol bingung dan menolaknya. Lan yang juga melihatnya, kembali menasehati RS.

“Bu kita tidak minta uang, tapi kita minta ibu bertobat saja,” kata Lan sambil menunjuk RS.

Namun RS tetap berkeras dengan alasan agar masalah itu selesai. Setengah terpaksa Renol menerima ATM itu agar RS bisa diantar pulang. Sampai di tujuan, Renol menyerahkan kartu ATM kepada RS.

Sayangnya RS tetap tidak mau menerimanya dan langsung pergi meninggalkan Renol.

Renol mendatangi sekolah RS, Selasa (15/12) pagi, Namun RS tak masuk mengajar.

Akhirnya setelah Renol terus mendatangi sekolah, pada Kamis (17/12) RS ditemukan sedang mengajar di salah satu kelas. Di depan rekan dan murid RS, Renol kembalikan kartu kredit

Namun RS justru memerintahkan Renol untuk pergi ke kantor Kelurahan. “Saya bingung lagi kenapa dia suruh saya ke kantor kelurahan,” ujar Renol.

Karena terus dipaksa, akhirnya Renol memutuskan untuk pulang. “Dari pada saya tambah bingung, mending saya pulang saja,” lanjut Renol.

Hingga saat ini Kata Renol, kartu ATM RS masih berada di tangannya. “Saya sudah berusaha mau kembalikan tapi dia tidak mau juga, ya sudah ini kartu ATM saya pegang saja,” tambah Renol ke Radar Sulteng (Jawa Pos Grup).

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM