Joko Widodo alias Jokowi, mantan wali kota Solo yang kini nonaktif dari Gubernur DKI Jakarta karena mencalonkan diri sebagai presiden (Dok/JIBI)
Joko Widodo alias Jokowi, mantan wali kota Solo yang kini nonaktif dari Gubernur DKI Jakarta karena mencalonkan diri sebagai presiden (Dok/JIBI)
MaduraExpose.com- Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia (UI), Abdul Muta’ali, melalui siaran persnya mengatakan, bahwa kalangan Muslim Indonesia paling banyak memberikan stigma negative tentang Jokowi.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Jokowi terlalu banyak mendapatkan stigma buruk dari kalangan Muslim Indonesia,” demikian siaran pers Abdul Muta’ali, Direktur PKTTI Universitas Indonesia seperti di lansir Republika, Kamis (19/12/2014) lalu.

Stigma itu, lanjut Abdul, menyusul adanya sembilan taipan (konglomerat) menjadi pendukung Jokowi-JK dalam pipres 2014. Ia mengistilahkan dengan sebutan aktor-aktor etnis minoritas Tionghoa. Dirinya juga menyinggung salam tiga jari Jokowi yang bisa diartikan sebagai hasrat membangun kebersamaan seluruh rakyat Indonesia.

Kendati pernyataan Abdul ini menyudutkan Umat Muslim Indonesia, dirinya tidak membantah kalau Jokowi sebagai pemimpin Negara tetap membutuhkan dukungan mayoritas.

“Keppres Nomor 50/2014 itu bertujuan membantah stigma buruk tentang pemerintahan Jokowi-JK yang memusuhi umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia. Termasuk stigma pemerintahan Jokowi bersikap alergi dan anti-Islam,” ungkapnya.

(ROL/FER)