Cak Imin Berpotensi Otoriter dan Rugikan PKB

0
503

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan menggelar Muktamar di Hotel Empire Palace Surabaya selama 2 hari pada 31 Agustus hingga 1 September 2014.

Informasi yang diperoleh beritajatim.com, agenda muktamar salah satunya adalah pemilihan ketua umum dan sekretaris jenderal untuk lima tahun ke depan. Saat ini, PKB dipimpin Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai ketua umum dan Imam Nahrawi sebagai Sekjen.

Cak Imin hampir dipastikan menjadi calon tunggal untuk posisi ketua umum dan belum ada pesaingnya hingga saat ini. Ini karena Cak Imin dianggap berhasil menahkodai PKB dan meraup suara signifikan saat pileg serta mendukung duet Jokowi-JK saat pilpres. DPC PKB se-Jatim juga telah menyatakan dukungannya untuk Cak Imin jadi ketum kembali.

Ambisi Cak Imin yang ingin maju lagi menjadi Ketua Umum PKB pada Muktamar nanti, dinilai bisa merugikan PKB lima tahun ke depan. Cak Imin akan semakin otoriter, karena kekuasannya semakin kuat.

“Selama ini tokoh sentral PKB adalah Muhaimin. Ibaratnya pemilik modal atau saham di PKB adalah Muhaimin, kalau ini terus dibiarkan bisa membahayakan partai lima tahun ke depan,” kata pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hariyadi, Senin (25/8/2014).

Cak Imin jika masih memimpin, tegas dia, bisa muncul sikap otoriter. Muhamin bisa melakukan apa saja terhadap orang-orang yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang tidak dikehendaki akan disingkirkan. Muhaimin akan mencari orang yang mau mengabdi pada Muhaimin, tapi tidak lagi pada kiai.

DPP PKB, menurut Hariyadi, selama dipegang Muhaimin Iskandar memang banyak kemajuan, namun itu tidak bisa terlepas dari posisinya sebagai menteri di kabinetnya SBY. Sebagai menteri, sedikit banyak material partai juga banyak dibantu. Padahal, di era nanti pemerintahan berubah, apalagi setelah Presiden terpilih Jokowi menyatakan bahwa menteri harus melepaskan jabatan sebagai orang parpol.

“Kalau dia jadi menteri, tentu diuntungkan PKB. Tapi, bila tidak maka PKB bisa dirugikan bila masih saja menjadikan Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar,” tukasnya.

Oleh karena itu, kata Hariyadi, peryataan para kiai yang tidak mendukung Muhaimin Iskandar maju lagi, merupakan peringatan keras bagi Muhaimin. Peryataan para kiai itu tidak bisa dianggap remeh. Meskipun para kiai sendiri selama ini peranannya sangat tidak signifikan di tingkat struktural.

“Tapi PKB masih butuh kiai, bila kiai tidak diberi peran apalagi disepelekan bisa membahayakan posisi PKB sendiri,” tuturnya.

Dia menambahkan, para kiai sangat ingin menjadikan PKB menjadi partai ideologis kembali, bukan partai yang dibangun atas kekuasan seseorang.

Diberitakan sebelumnya, pengamat politik asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Krisnanto juga menilai, langkah Cak Imin menjadi ketum PKB kembali tidak akan berjalan mulus, jika Cak Imin ingin menjadi menteri di kabinet Jokowi-JK.

“Begitu juga sebaliknya, Cak Imin tidak bisa masuk ke dalam kabinet Jokowi-Jusuf Kalla, jika terpilih menjadi Ketua Umum PKB. Jokowi sejak awal sudah konsisten mengambil menteri dari yang tidak menjabat di struktur parpol,” katanya. (tok)

Sumber: beritajatim.com