Belasan Demonstran Tewas Ditembak dalam Kerusuhan yang Dipicu Kekerasan Polisi

0
89
Demonstrators set a barricade on fire during a protest against police brutality in Cucuta, on the Colombian border with Venezuela, on September 10, 2020. - At least 10 people were killed and hundreds wounded after rioting broke out in the Colombian capital Bogota during protests over the death of a man repeatedly tasered by police, authorities said. (Photo by Schneyder MENDOZA / AFP)

Maduraexpose.com- Demonstrasi mengecam penganiayaan seorang pria oleh polisi di Bogota, Kolombia, berujung rusuh. Setidaknya 11 orang dinyatakan tewas serta seratusan lainnya mengalami luka-luka.

Demonstran pertama kali turun ke jalanan Bogota pada Rabu (9/9) kemudian dilanjutkan pada Kamis (10/9) pagi waktu setempat. Aksi unjuk rasa itu dipicu beredarnya video seorang pengacara bernama Javier Ordonez yang mendapat kekerasan dari polisi yang menggunakan senjata setrum.

Dalam video yang beredar luas, Ordonez terlihat terbaring di tanah dan meminta polisi menghentikan tembakan setrum yang sudah lima kali diarahkan padanya.

Ordonez dinyatakan meninggal dunia setelah dibawa ke kantor polisi kemudian dipindahkan ke fasilitas medis. Keluarga korban mengklaim bahwa Ordonez mendapat kekerasan tambahan saat dibawa ke kantor polisi.

Video tersebut kemudian memicu kemarahan para demonstran yang menuntut hukuman bagi polisi yang melakukan kekerasan. Namun, aksi demo yang awalnya berjalan damai berubah jadi kerusuhan setelah polisi bertindak represif.

Aksi demo bukan cuma di Bogota tetapi juga meluas ke sejumlah kota besar lainnya. Otoritas berwenang menerima laporan 11 orang tewas serta ratusan demonstran luka dalam aksi unjuk rasa yang berujung rusuh.

“Tujuh orang tewas dalam kerusuhan di ibu kota, sebagian besar dari mereka adalah pemuda yang ditembak,” kata Wali Kota Bogota, Claudia Lopez, dikutip dari AFP, Jumat (11/9).

“Tiga orang lagi tewas di kota terdekat Soacha. Seorang perempuan meninggal setelah ditabrak bus yang dikendarai oleh perusak,” lanjutnya.

Walikota Lopez juga mengecam aksi represif polisi yang justru menggunakan tembakan untuk meredam aksi massa.

“Ada bukti kuat tentang penggunaan senjata api yang tidak pandang bulu oleh polisi. Pelatihan seperti apa yang mereka terima untuk melakukan respons yang sangat tidak proporsional terhadap sebuah protes?,” tambahanya.

Presiden Kolombia, Ivan Duque, berjanji akan melakukan penyelidikan dengan sangat teliti untuk mendapatkan kepastian mutlak tentang fakta-fakta insiden tersebut.

Namun, dia menolak menstigmasi polisi dan menyebut mereka pembunuh karena tindakan tegas yang dilakukan.

[INEWS]