Garut: Kasus pelecehan seksual yang menimpa belasan anak di bawah umur di Kampung Cicayur, Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug mendapatkan perhatian pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk meninjau sekaligus memulihkan kondisi mental para korban, pihak kemeterian, Jumat (4/3/2016) menurunkan tim ke Kampung Cicayur.

Tim yang diturunkan pihak kementerian ke Kampung Cicayur terdiri dari lima orang dan mereka didamnpingi pihak P2TP2A Kabupaten Garut. Sebagaian memberikan permainan kreatif kepada puluhan anak-anak di desa tersebut, termasuk di antaranya belasan korban pelecehan seksual. Sebagian lagi, memberikan penyuluhan kepada para orangtua terkait bahayanya perilaku penyimpangan seksual termasuk salah satunya sodomi.

Di sela-sela kegiatan permainan kreatif, juga disisipkan pesan-pesan agar para korban pelecehan seksual tidak merasa minder dan harus tetap percaya diri. Mereka diingatkan bahwa mereka masih punya masa depan yang harus disongsong dengan baik dan penuh harapan agar bisa menjadi orang yang sukses dan bisa menggapai cita-citanya.
Anak-nak ini sendiri nampak sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Sepanjang melakukan kegiatan, mereka nampak sangat ceria seolah lupa terhadap apa yang pernah mereka alami sebelumnya. Apalagi dalam kegiatan tersebut, isteri Bupati Garut Rudy Gunawan yang juga Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari ikut nimbrung bermain dengan anak-anak.

Sementara anak-anak asik mengikuti kegiatan trauma healing di salah satu ruangan di Madrasah Diniyah Takmiliyah/RA Miftahul Ulum, di ruangan sebelahnya puluhan orangtua serius mendengarkan penyuluhan anggota tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta P2TP2A Garut terkait bahanya perilaku penimpangan seksual. Mereka juga mendapatkan pencerahan terkait sistem pengawasan terhadap anak untuk menghindari perilaku-perilaku menyimpang.

Menurut anggota tim psikolog dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Barat pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lutfiah Rahmatin, sebenarnya tim yang ditugaskan turun ke Kampung Cicayur itu ada delapan orang. Namun yang turun hari ini baru lima orang dan sisanya akan menyusul. Disamping memberikan konseling kepada korban dan anak-anak lainnya, tim juga memberikan penyuluhan tentang pendidikan seks kepada orangtua serta sistem pengawasan terhadap anak.

Untuk langkah awal, tutur Lutfia, pihaknya terlebih dahulu mengumpulkan data awal terkait jumlah korban pelecehan di daerah tersebut. Langkah selanjutnya, orangtua dan masyarakat diberikan penyuluhan sebagai fondasi lingkungan sosial agar mendukung pengembalian kondisi mental dan mencegah adanya ejekan kepada para korban.

“Dari Kemendikbud melalui LPMP Jabar juga menurunkan tim. Para korban dan anak-anak lainnya sengaja disatukan dalam sebuah permainan agar mereka bisa berbaur sehingga korban tak merasa malu bergaul dengan teman-temannya. Kami tak ingin kejadian ini merembet sehingga ini harus diputus mata rantainya,” ucap Lutfia.

Masih menurut Lutfia, yang paling penting dalam kegiatan ini selain memberikan pemahaman terhadap para orang tua, juga membuat para korban merasa “fun”. Untuk penanganan korban sendiri, menurutnya tidak bisa ditentukan karena hal itu tergantung pada kondisi anak. Pemulihan kondisi mental korban dengan melupakan kejadian dan dorongan dari orangtua dan masyarakat menjadi tujuan utama kegiatan ini.

Ke depan, tambah Lutfia, pihaknya berencana melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar lebih peduli terhadap pendidikan seks yang tepat sesuai usia anak. Jadi ketika ada yang mau melakukan sodomi, anak-anak sudah tahu dan bisa menolaknya.

Sementara itu Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari, menerangkan berdasarekan laporann yang diterimanya, ada di nataranya beberapa korban pelecehan yang sudah tidak mau lagi sekolah karena malu sering diejek teman-temannya. Ini tentu sangat disesalkan mengingat masa depan mereka yang masih sangat panjang yang seharusnya tidak terganggu oleh hal-hal seperti ini.

“Kami ingin para korban kembali mempunyai kepercayaan diri dan tidak malu untuk sekolah dan bergaul dengan teman-temannya. Itulah makanya selain memberikan trauma healing terhadap para korban, tim juga memeberikan pemahaman terhadap anak lainnya serta masyarakat termasuk para oerang tua untuk membantu memulihkan kondisi mental para korban,” kata Diah.

Masih menurut Diah, jika dibutuhkan pihak P2TP2A Jawa Barat juga siap turun membantu. Selain korban, pelaku pelecehan juga diberi bantuan hukum dan bimbingan psikilogi.

“Kasus ini menjadi permasalahan yang luar biasa di Garut bahkan bisa dikatakan telah “menampar” kita semua. Kami bersama-sama ingin memulihkan semuanya dan tak ingin kasus serupa terulang di garut,” ucapnya.

(Irwan R/AKS/rri)

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM