MADURA EXPOSE–Sekitar 50 lebih PKL pindahan dari Taman Bunga Sumenep hingga saat ini belum berani membuka lapak mereka dengan alasan tidak kebagian tempat yang strategis di depan lapangan Giling, Kota Sumenep, Madura, Jawa Timur.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Ada sekitar 50 PKL yang belum buka lapak mereka dengan alasan tidak kebagian tempat yang mereka inginkan,” ujar Agus, salah satu PKL asal Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Beberapa PKL lainnya mengaku terpaksa bertahan dengan berjualan karena belum menemukan tempat yang strategis. Mereka berharap, agar mereka dikembalikan lagi ke Taman Bunga.

Sementara itu, Ach.Farid Azziyadi mengaku banyak kejanggalan dari proses relokasi PKL itu, salah satunya, sampai detik ini Wabup Fauzi belum menunjukkan surat edaran (SE) yang ditanda tangani oleh Bupati Busyro selaku pemegang kebijakan.

“Saya cek dibeberapa media, belum ada yang mempublikasikan SE Bupati terkait relokasi PKL Taman Bunga. SE itu penting untuk mengetahui apa sebenarnya yang menjadi alasan pemindahan ratusan pedagang ke lapangan giling itu,”ujarnya.

Farid mencurigai relokasi PKL itu murni inisiatif Wabup Achmad Fauzi, bukan perintah dari Bupati Busyro Karim.

“Jangan-jangan Pak Bupati hanya meminta Wabup menata PKL saja, tanpa harus melakukan relokasi,” imbuhnya.

Jauh hari sebelumnya, Darmendra Tarigan, salah satu aktivis Pengembang SDM menyorti program kerja 99 hari Bupati Sumenep yang dinilai amburadul dan tidak pro rakyat karena ngotot memindahkan pedagang kaki lima (PKL) dari Taman Bunga (TB). ke depan lapangan Giling Sumenep.

Pihaknya meminta pihak Pemkab tidak mencari-cari alasan dengan menyoal kebersihan, karena selama ini kehadiran PKL di Taman Bunga itu selalu bayar retrebusi.

“Seharusnya, kalau PKL mau dipindah, sediakan dulu dong lokasinya dan tempat berjualan yang layak, baru bicara relokasi PKL,” pungkasnya.[Ahi/Ferry]