MADURAEXPOSE.COM–Terlihat beberapa orang berteriak dan memberikan kode-kode khusus kepada para crosser di pinggir bahkan sampai masuk lintasan, saat Kejuaraan Nasional Seri kedua Motorcross di MPS motorsport Pandeglang, Banten, Minggu (2/4).

Teriakan semangat ataupun pemberian kode-kode khusus wajar dilakukan oleh kru tim balap kepada pebalap saat laga. Namun, itu akan terlihat konyol jika dilakukan berlebihan dengan melewati batas pinggir lintasan (masuk trek). Bukan saja soal keamanan, tapi juga psikologis pebalap mungkin akan terganggu.

Sehingga kru tim balap dituntut harus dapat bekerja dengan cepat, cermat, dan teliti. Karena satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal, tidak hanya bagi catatan waktu pebalap, namun juga bagi keselamatannya.

Dari kejadian tersebut, di mana banyaknya kru tim yang berada di dalam area sirkuit, membuat panitia mengambil keputusan penghentian sesi balapan beberapa saat untuk menertibkan hal itu. Tak ayal, sebagian pebalap mengakui aksi konyol itu cukup mengganggu konsentrasi mereka.

“Bagi seorang pebalap, tentu kehadiran kru tim yang menyemangati di area sirkuit berpengeruh terhadap psikologis. Bisa tambah semangat, tapi juga malah menggangu jika aksi itu dilakukan di dalam sirkuit,” ungkap Farhan Hendro, pebalap tim Kawasaki Greentech Cargloss AHRS.

sejurus dengan pandangan Farhan, mantan pebalap nasional bernama Aep Dadang juga mengatakan, bahwa sebetulnya kehadiran kru tim yang maksudnya menyemangati, justru bisa berimbas pada beban yang akan dirasakan oleh pebalap.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Makanya di dalam tim kami, biasanya yang memberi kode atau semangat kepada pebalap, adalah orang yang dianggap dekat dengan pebalap saja. Karena, orang tersebut dianggap sudah tahu kemampuan pebalap. Sementara kru tim yang lain hanya memberi masukan kepada orang dekat itu, untuk diinformasikan ke pebalap. Jadi enggak semua kru tim bisa seenaknya memberikan kode atau menyemangati pebalap,” jelas instruktur tim Pesona Indonesia MX.

Kendati demikian, Aep Dadang mengakui untuk kelas SE 50 cc yang diisi pebalap cilik, peran kru tim atau bahkan orang tua di sirkuit sangat penting. “Seperti contoh, memberikan petunjuk racing line yang tepat. Tapi tetap saja, sebetulnya hal itu tidak boleh, jika dilakukan di dalam sirkuit.”

Lebih lanjut, pria akrab dipanggil Babap itu menjelaskan, bahwa gelaran kejurnas Motocross harus dikemas lebih baik lagi oleh panitia untuk mengantisipasi hal-hal demikian.

“Seperti misalnya ada tanda khusus untuk kru tim agar bisa mengakses ke tempat mana saja yang diperbolehkan. Bahkan kalau bisa ada tim dari pihak penyelenggara yang mengurusi seperti itu, biar tertib. Tentu juga, harus ada sikap dan aksi dari PP IMI (Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia), seperti pemberian sanksi,” katanya.

Menanggapi itu, Iwa Kusdinar, Ketua Komisi Motocross, Grasstrack dan Supermoto PP IMI, yang juga sempat Dapurpacu.com mintai keterangan, mengatakan, “Kami sebetulnya sudah menyediakan tempat khusus bagi kru tim, untuk menyampaikan informasi lewat pit board. Selain itu kami juga sudah berikan garis pembatas, tapi tetap saja mereka masuk ke area sirkuit. Bahkan kami sudah pernah memberikan denda, tapi tanggapan mereka malah lebih memilih mambayar denda tersebut.” Patut disayangkan.

[dp/Hml]