Sumenep (Madura Expose)- Hampir sebulan kasus Ahmad Fahrul Futoni (Toni) bergulir, namun sejauh ini belum ada satupun pelaku yang berhasil dibekuk oleh aparat kepolisian. Hal ini membuat banyak pihak merasa kecewa terhadap kinerja aparat, terutama di Polres Sumenep, Madura, Jawa Timur.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

“Kasus Toni ini sangat lamban, dan kami menyimpulkan, bahwa Polri perlu menempatkan polisi-polisi cerdas dan profesional dengan kapasitas SDM sekelas Ibu Kota”, ungkap Ach Supyadi, kuasa hukum Toni kepada Madura Expose saat berkunjung ke Kantor Madura Expose.com.

Ungkapan kekecewaan juga disampaikan oleh Ketua Lidik Hukum & HAM, A.Effendy. Kekecewaan terhadap lambannya penanganan kasus Toni, korban kekeraan anak dibawah umur ini diperparah dengan adanya ulah salah satu pejabat Polres yang menurunkan baleho bergambar Toni dan seruan moral supaya Polres segera menangkap otak pelaku, eksekutor dan dukun yang menyebabkan tangan Toni nyaris cacat seumur hidup karena digoreng kedalam minyak mendidik.

“Kelemahan Polres Sumenep dalam penanganan kasus Toni cenderung sangat lamban. Pihak Polres hanya berkutat pada pencarian satu pelaku yang sudah menyembunyikan diri. Padahal, kalau kepolisian serius, penyidik bisa saja toh membidik calon tersangka lainnya yang terlibat tanpa harus menunggu pelaku utama tertangkap”, terang A.Effendy dalam siaran Persnya yang diterima Madura Expose, Jum’at (5/2/2016).

Tak tanggung-tanggung, kasus Toni ini juga mendapat sorotan dari Wakil Bupati Sumenep terpilih yang secara tidak langsung meminta pihak Polres memaksimalkan kinerjanya dalam upaya menangkap semua pelaku dan memperosesnya sesuai hukum agar tidak ada yang merasa dikorbankan.

“ Kasus Toni harus ada keadilan dari pihak Polres Sumenep”, terang Achmad Fauzi Wakil Bupati Sumenep terpilih melalui pesan singkat yang dikirim kepada Madura Expose Network.

[sab/fer]