Bukan Sekadar Pesta! Lumajang Usia 770 Tahun: Menengok Sejarah Lapis Raja hingga Era Digital (Harjalu 2025)

Terbit: 16 Desember 2025 | 21:56 WIB

LUMAJANG, JAWA TIMUR – Pemerintah Kabupaten Lumajang tidak merayakan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-770 Tahun 2025 sebagai agenda tahunan biasa. Peringatan yang digelar pada Senin (15/12/2025) ini diangkat sebagai momentum reflektif mendalam untuk menelusuri kembali perjalanan sejarah daerah yang berusia tujuh abad lebih.

Dengan usia 770 tahun, Lumajang menempati posisi unik sebagai salah satu wilayah dengan jejak historis yang kokoh, membentang dari era kerajaan, periode kolonial, hingga bertransformasi menjadi bagian integral dari Indonesia modern.

Sejarah Bukan Nostalgia, Tapi “Aplikasi” Pembangunan

Bupati Lumajang, Indah Amperawati, dalam prosesi yang digelar di Pendopo Arya Wiraraja, menegaskan bahwa perayaan Harjalu adalah ruang kontemplasi kolektif. Ia mengajak masyarakat untuk memandang sejarah bukan sebagai kenangan yang terisolasi (nostalgia), melainkan sebagai sumber nilai dan pembelajaran aktif dalam merumuskan arah kebijakan dan pembangunan daerah saat ini.

“Perjalanan panjang Lumajang mengajarkan banyak hal. Dari sejarah kita belajar tentang nilai kebersamaan, ketekunan, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan,” ujar Bupati Indah Amperawati.

Menurutnya, pemahaman terhadap jejak masa lalu adalah fondasi krusial (foundational knowledge) agar setiap langkah pembangunan yang diambil tidak kehilangan jati diri dan konteks sosial lokal. Pembangunan yang berkelanjutan harus senantiasa berpijak pada nilai sejarah dan budaya yang telah mengakar.

Tiga Pilar yang Dibentuk Sejarah 770 Tahun

Peringatan Harjalu ke-770 ini berfungsi sebagai pengingat bahwa identitas Lumajang saat ini terbentuk melalui proses multilayer dan melibatkan evolusi berbagai generasi. Ada tiga nilai utama yang ditekankan dalam refleksi sejarah ini:

  1. Kebersamaan dan Ketekunan: Nilai yang dipetik dari dinamika sosial dan tantangan masa lalu.

  2. Adaptasi: Kemampuan daerah untuk terus bertahan dan bertransformasi melintasi berbagai periode kolonial hingga era digital.

  3. Jati Diri Lokal: Memastikan kebijakan masa depan tetap selaras dengan karakter masyarakat dan budaya yang telah lama tumbuh.

Melalui momentum ini, Pemkab Lumajang menegaskan komitmennya untuk mengolah sejarah menjadi kebijakan yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan tantangan era modern. Harjalu 770 diharapkan menjadi penanda kesadaran kolektif bahwa masa depan Lumajang dibangun dengan menghargai setiap langkah panjang yang telah dilalui.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Titip Lab di Mapolda Jatim

Terbit: 15 April 2026 | 14:41 WIB SUMENEP, MADURA EXPOSE– Keheningan Pantai Pasir Putih Kahuripan, Dusun Lombi Timur, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, mendadak pecah pada Senin sore (13/4). Seolah menjadi…

Konferensi Pers Temuan Kokain 27 Kg Batal Mendadak Kapolda Jatim Dipanggil Wakapolri

Terbit: 14 April 2026 | 15:00 WIB SUMENEP – Publik yang menanti rilis resmi terkait temuan fantastis 27,83 kilogram diduga kokain di Giligenting harus gigit jari. Agenda konferensi pers yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *