Harmoni Bumi Sumekar, 753 Tahun Merawat Toleransi

0
341

Oleh: Achmad Fauzi,SH,MH, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumenep

Peringatan Hari Jadi Sumenep tahun ini megajak kita semua kembali menapak tilas torehan sejarah dari puing-puing masalalu yang satu demi satu menjadi warisan budaya yang terus dipertahankan, dikembangkan secara sungguh-sungguh hingga menjadi sebuah Harmoni.

Tak berlebihan kiranya jika pada momentum yang sangat luar biasa ini, kita bersepekat untuk melakukan harmonisasi diberbagai even melalui rasa kebersamaa, membangun peradaban melalui aksi nyata dan gagasan cerdas dalam rangka membangun Sumenep tercinta melalui peringatan Hari Jadi Sumenep ke 753 yang kita kemas dalam tajuk “Harmoni Bumi Sumekar”.

Keserasian itu telah lama melahirkan semangat persatuan seluruh masyarakat Sumenep sejak dahulu kala. Selalu betah bersama meski terdiri dari suku-suku dan bahasa serta kebudayaan yang berbeda-beda. Kita semua telah sepakat, bahwa sejak pertama kali Hari Jadi Sumenep dikibarkan pada tanggal 31 Oktober 1269 Masehi, harmonisasi itu akan terus dipertahankan dalam senyum indah kebersamaan.

Sumenep yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dikenal sebagai Kota Santri ini, telah diakui dunia sebagai daerah yang memiliki tradisi budaya yang sudah go international semisal upacara adat nyadhar, kerapan sapi, klenengan, tari gambhu dan bahkan empu keris terbesar yang telah dilegitimasi oleh UNESCO.

Adanya Keraton, bukti peninggalan terbesar Sumenep hingga detik ini masih berdiri kokoh dan original sebagai symbol kuasa dimasa lampau.

Wajar saja kalau banyak tokoh nasional maupun budayawan yang menyebut Sumenep sebagai ruh atau ikon dari Pulau Madura yang sepanjang sejarah selalu menjadi cerminan masyarakat Indonesia. Bahkan K. R. Abubakar cucu salah satu tokoh ‘ulama kharismatik Sumenep K. R. Mu’amar Wongsoleksono pernah bilang “Siapa saja yang ingin melihat Madura, cukup (dengan) melihat Sumenep saja,”. Alasan beliau karena pada awal sejarah Sumenep merupakan pusat Madura. Itu dibuktikan secara historis, bahwa pusat pemerintahan Madura berawal dari dilantiknya Aria Wiraraja pada tahun 1269 silam.

Kita sadari penyebutan Sumenep sebagai ikon Madura tidak serta merta hanya diukur dari sudut usianya saja. Dilihat secara objektif, budaya Sumenep itu sangat majemuk. Kemajemukan Sumenep tak hanya dilihat dari banyaknya suku-suku dan bahasa, bahkan juga dalam masalah agama. Lihat saja bangunan Klenteng di Pabian yang bersanding dengan bangunan gereja, dan bangunan Masjid di sisi jalan sebelahnya. Namun masyarakatnya tetap hidup rukun dalam toleransi yang sangat tinggi.

Maka sudah tepat jika ada penyebutan Sumenep sebagai soul of Madura karena memiliki gugusan pulau yang sangat luas dengan penghuninya yang terdiri dari banyak suku, mulai duku Madura, suku Mandar, suku Bugis, suku Dayak bahkan juga ada suku Batak dan Ambon. Hingga saat ini, mereka tetap hidup rukun satu sama lain dalam harmonisasi selama 753 tahun. [*]

Editor: Ferry Arbania

BAGIKAN
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum