Koalisi Permanen PKB-PDIP Jilid II dan Nasib Nyai Eva Saat Tak Lagi Ketua Hanura

0
298

Maduraexpose.com — Banyak pihak yang meragukan akan terbangunnya kembali koalisi permanen antara PDIP dengan PKB seperti terjadi pada era kepemimpinan A.Busyro Karim selama menjabat sebagai Bupati dua priode.

Hal itu disampaikan oleh Syaifur Rahman, salah satu analis politik dari Sumekar Network merespon kecemasan politik Dewi Khalifah yang tak lagi menjabat sebagai Ketua Partai Hanura Sumenep dan menelisik kekuatan PDIP Sumenep yang saat ini dipimpin oleh Achmad Fauzi,SH,MH yang menjabat sebagai Ketua DPC PDIP sekaligus Bupati Sumenep.

“Ada dua kajian politik yang saat ini sedang asyik-asyiknya diperbincangkan para pecandu politik. Diantaranya membaca posisi Dewi Khalifah di Pilkada Sumenep 2024 setelah diriya tak lagi menjabat Sebagai Ketua DPC Hanura. Berikutnya soal kemungkinan adanya koalisi permanen PKB dengan PDIP seperti terjadi di Pemerinatahan Bupati sebelumnya,” terangnya dalam diskusi kecil di Kedai Kopi pinggiran kota Sumenep, Rabu 01 Juni 2022 dini hari.

Pihaknya memprediksi, andaikata PKB Sumenep bersedia untuk melakukan koalisi dengan PDIP dalam Pilkada Sumenep 2024 hal itu akan sulit terwujud jika kedua partai itu bersikukuh mengusung Calon Bupati.

“Hal paling sulit untuk terjadinya koalisi permanen ‘jilid II’ ketika PKB dan PDIP sama-sama ngotot untuk mencalonkan Bupati. Artinya, koalisi itu bisa terjadi ketika sebatas koalisi parpol saja atau setidaknya di posisi M2. Tapi khan ada Nyai Eva,”imbuhnya.

Kendati demikian, Syaifur Rahman tetap berharap agar peroses demokrasi Pemilihan Kepala Daerah di Pilkada Sumenep 2024 tetap berjalan sehat dan demokratis.

“Saya melihat banyak tokoh Sumenep yang bisa ikut kontestasi politik Pilkada yang memiliki kapasitas seperti KH.Unais Ali Hisyam senior PKB , KH Imam Hasyim dan sederet tokoh lainnya,” timpalnya menutup perbincangan.

Sementara Nyai Eva atau Dewi Khalifah, dalam percakapan sebelumnya dengan media ini sepertinya tak terlalu pusing dengan dinamika politik belakangan ini.
Bahkan dengan santai, pihaknya seperti hendak menyindir para analis untuk tetap percaya penuh pada garis takdir.

“Di politik tidak bisa diprediksi jauh hari, yang jelas garis tangan dari Allah dan ikhtiar itu satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya diksi yang terlihat agak diplomatis.
[ima/tin/fer]

BAGIKAN
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum