Terungkap Ponpes Assyafiiyah Tamberuh Jadi Markas Pejuang

0
1877

MADURAEXPOSE.COM–Sebuah postingan menarik tentang Pondok Pesantren Assyafiiyah Tamberuh yang konon pernah menjadi Markas Pejuang sabil dalam mengusir penjajahan di bumi nusantara.

Berikut artikel lengkap yang diposting dalam blog http://astaoke.blogspot.co.id/ sengaja dilansir MaduraExpose.com pada Selasa Malam (11/4/2-17) untuk menambah refrensi bagi yang menyukai sejarah pesantren di Madura:

Pondok Pesantren Assyifiiyah

Oleh: R.KH. Ach. Baihaki Busthami Bazzar

Pondok Pesantren As-Syafiiyah untuk pertama kalinya di dirikan oleh Almarhum KH. Moh. Syafi’uddin, sekaligus sebagai pengasuh yang pertama. Tidak ada keterangan resmi, tanggal, bulan dan tahun berapa tepatnya pondok pesantren As-syafiiyah di dirikan, karena cikal bakal dari pesantren ini adalah markas pejuang sabil pada masa penjajahan sampai perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Namun demikian, beberapa sumber menyatakan, bahwa Almarhum KH. Moh. Syafi’uddin mulai bermukim di lokasi Pondok Pesantren As-Syafiiyah yang sekarang ini, sejak tahun 1943.

Awal-awal berdirinya, tidak ada fasilitas apa-apa di Pondok Pesantren As-Syafiiyah ini, kecuali Musholla, asrama santri yang terbuat dari gedek, dan sebuah sumur sebagai sarana untuk bersuci. Pun tidak ada kegiatan apa-apa selain sorogan dan bandongan Al-Qur’an serta kitab-kitab kuning yang semuanya di asuh langsung oleh Almarhum KH. Moh. Syafi’uddin.
Ponpes Assyafiiyah adalah salah satu Pondok Syalafiyah yang berpedoman pada Kaida

“Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang baik pula”, hal ini sesuai dengan
apa yang diterapkan di Ponpes tersebut.

Pondok Pesantren Salaf, salafi atau salafiyah adalah tipe pondok pesantren tradisional di Indonesia. Kebalikan dari pesantren salaf adalah ponpes modern (kholaf, ashriyah). Istilah salaf di sini tidak ada hubungannya dengan gerakan pembaruan Islam garis keras Wahabi yang kerap disebut dengan gerakan salafi.

Beberapa ciri khas dari pesantren salaf adalah, pertama, adanya penekanan pada penguasaan kitab klasik atau kitab kuning (kutub atturats – كتب التراث ).

Kedua, masih diberlakukannya sistem pengajian sorogan, wetonan, bandongan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) santri.

Ketiga, saat ini walaupun pesantren salaf memperkenalkan sistem jenjang kelas–disebut juga dengan sistem klasikal–namun materi pelajaran tetap berfokus pada kitab-kitab kuning alias kitab klasik.

Keempat, secara umum hubungan emosional kyai-santri di pesantren salaf jauh lebih dekat dibanding pesantren modern. Hal ini karena kyai menjadi figur sentral: sebagai edukator karakter, pembimbing rohani dan pengajar ilmu agama.

Kelima, materi pelajaran umum seperti matematika atau ilmu sosial tidak atau sangat sedikit diajarkan di pondok salaf.

Keenam, pondok salaf yang murni tidak memiliki lembaga pendidikan formal SD/MI MTS/SMP SMA/MAapalagi perguruan tinggi yang kurikulumnya berada di bawah pemerintah via Kemdiknas/Diknas atau Kemenag/Depag. Kalau ada sekolah dengan jenjang MI, MTS dan MA biasanya memakai kurikulum sendiri. Sekolah semacam ini disebut dengan madrasah diniyah atau madin.(***)