Ist.Bayangan kematian (Istimewa)

Nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih diselimuti awan hitam. Sekitar 200 TKI di luar negeri terancam hukuman mati, dua di antaranya bahkan telah dieksekusi. Jumlah ini terdiri dari berbagai jenis kasus di antaranya kriminalitas narkoba dan tuduhan sihir.

STAF Ahli Kementerian Luar Negeri, Salman Alfarisi menuturkan dari semua kasus pemerintah berhasil membebaskan 15 orang TKI yang terjerat kasus di luar negeri. Hal itu katakan di sela sosialisasi penanganan kasus besar di luar negeri yang melibatkan WNI di Surabaya, Senin (27/7).

Menurutnya, pemerintah akan terus melakukan upaya pendampingan pada WNI di luar negeri. “Kasus ini banyak terjadi pada TKI ilegal, namun pemerintah tidak melihat status ini, selama orang tersebut warga Indonesia akan diberikan bantuan,” terang mantan Dubes Indonesia untuk Arab Saudi itu.

Menurutnya, sampai saat ini penyebaran WNI di luar negeri di dominasi Malaysia dengan 2,5 juta orang dan di urutan kedua Arab Saudi dengan 800 ribu orang. Sedangkan negara lain yang menjadi penyebaran WNI diluar negeri adalah Afrika dan Amerika Selatan serta sejumlah negara lainnya.

Sedangkan menurut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu, Lalu M Iqbal, Jatim menyumbangkan 6.901 Kasus TKI di luar negeri dengan 35 kasus yang masuk dalam kategori high profile case di Arab Saudi. Jumlah kasus ini menjadi penyumbang cukup besar kasus secara nasional yang jumlahnya 29.237 kasus.

Kasus besar yang menimpa TKI Jatim antara lain, kecelakaan lalu lintas 17 kasus, pembunuhan 10 kasus, sihir 3 kasus, perzinahan 2 kasus, narkoba, 2 kasus dan penganiayaan 1 kasus. Kabupaten Bangkalan dan Sampang menjadi daerah terbanyak asal TKI dengan masing-masing 7 kasus.

“Yang terbaru ada ABK (anak buah kapal) yang terbakar di Korea dengan luka bakar 80 persen. TKI ini tidak memiliki asuransi sehingga kesulitan dalam memperoleh penanganan medis. Namun kami sebagai perwakilan pemerintah telah memberikan pendampingan sehingga bisa mendapatkan pengobatan dan dipulangkan untuk berobat di dalam negeri melalui BPJS,” ujar Lalu.

HotNews:  PKS Protes Penghapusan Label Halal Produk Impor
Sementara Asisten III Bidang Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jatim, Asyhar, mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja yang bermingrasi ke luar negeri disebabkan peluang kerja yang minim di dalam negeri. “Besarnya gaji, sistem kerja di dalam negeri juga memengaruhi masyarakat memilih kerja ke luar negeri,” terangnya.

Dia mencontohkan di Jatim saat ini terdapat 29 juta orang yang memasuki usia kerja, sedangkan angkatan kerja mencapai 20,1 juta orang. Ironisnya jumlah kesempatan kerja yang ada hanya 19,3 juta. “ Ini yang membuat banyak memilih menjadi TKI,” tambah Asyhar.
Sayangnya tenaga kerja asal Indonesia rata-rata memilih menjadi pekerja sektor rumah tangga. Padahal sektor ini sangat lemah masalah sistem kerja dan pengawasannya.(*)
BERITAMETRO|EXPOSE.ID