Nur Khalis
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Oleh: Nur Khalis***

MADURA EXPOSE–
Sumpah Pemuda sebagai momen kebangkitan rakyat di abad 20 yang telah dijajah dan ditindas sejak abad 17 serta menjadi inspirasi bagi revolusi agustus 1945.

Sehingga dihari sumpah pemuda yang ke 90 tahun ini layak memposisikan sumpah pemuda 28 Oktober 1928 sebagai bagian dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia melawan penindasan, sebagai respon terhadap situasi kongkrit rakyat Indonesia, sebagai akumulasi dari bermacam bentuk penjajahan yang terus menerus sehingga melahirkan semangat perlawanan yang kuat bagi seluruah rakyat Indonesia, dalam mengobarkan semangat perjuangan pembebasan nasional dari jajahan kolonial.

Sumpah Pemuda sebagai tekad dari suatu kaum yang progresif adalah titik awal penyatuan komitmen bersama dalam memperjuangkan gagasan demi kebaikan hidup kebangsaan dengan kehendak memuliakan harga diri bangsanya melalui pengetahuan dan gagasan kemajuan.

Komitmen kebangsaan yang dibangun diatas fondasi membangkitkan tekad, menaklukkan segala kesulitan merupakan kebesaran jiwa mengatasi kekerdilan kepentingan sempit demi kebaikan hidup bersama. Konsep satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa menjadi realitas sejarah yang mendasari konsep nasionalisme kebangsaan Indonesia.

Komitmen itu tercatat dalam sejarah kongres pemuda II bahwa meski sebagian besar pemuda-pelajar yang menghadiri KBPI II itu mayoritas berasal dari tanah jawa, mereka rela berkorban tidak memaksakan bahasa mayoritas ( bahasa jawa ) sebagai bahasa persatuan.

Demi mengusung gagasan kebangsaan yang egaliter, mereka sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sehingga dengan nilai-nilai inklusifitas sumpah pemuda dalam horizon imajinasi kebangsaan mampu mengatasi kesempitan primordialisme agama, kesukuan, dan kedaerahan.

Dibawah identitas kolektif baru ini, segala kesempitan dan keragaman dipertautkan ke dalam keluasan imaji ke Indonesiaan dengan ikrar yang mengakui tumpah darah satu, bangsa satu, dan bahasa persatuan.

Kemampuan mentransendensikan kesempitan etnosentrisme menuju keluasan solidaritas kebangsaan yang pada akhirnya berhasil mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Sehingga ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia.

Semangat sumpah pemuda yang selama ini memancarkan mimpi dan visi kebangsaan di Era milenial sedang di uji. Banyak anak muda genius bangsa ini tersia-siakan karena pemujaan pada budaya kolonial yang berlebihan. Dalam situasi demikian, budaya pecundang melanda kehidupan berbangsa. Pusat keteladanan dan impian selalu diletakkan diluar negeri.

Budaya konsumen untuk senantiasa mengutamakan produk asing merajalela dengan mematikan daya produktif dalam negeri. Kebesaran jiwa di era milineal ini menjadi langka, sementara penyelenggara kurang menghayati prinsip-prinsip kehidupan publik yang seharusnya mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi dan kelompok.

Senafas dengan itu, persatuan nasional di dengung-dengungkan tanpa dilandasi kebesaran jiwa untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sementara politik sebagai taktik terus dipercanggih, tetapi politik sebagai nilai etik dikesampingkan, otonomisasi dan desentralisasi yang diharapkan melahirkan kesejahteraan rakyat, ternyata hanya mampu melanggengkan kekuasaan dan bangkitnya dinasti politik yang berkesinambungan.

Sementara pemuda yang mempunyai tanggung jawab moral, telah termakan pragmatisme, hidonisme yang mempunyai efek ketidakpedulian terhadap kondisi bangsanya. Pandangan pragmatis ini tumbuh ketika para pemuda menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diinginkan baik kekuasaan atau kesenangan sesaat.

Disisi yang lain tantangan saat ini yang dihadapi pemuda semakin kompleks, selain perubahan akibat globalisasi dengan gelombang teknologi yang melampaui batas-batas nalar etik manusiawi juga terjadi maraknya ancaman penyalahgunaan narkotika dan radikalisasi. Selaras dengan itu, Penyebaran berita bohong, ujaran kebencian telah menjadi dramatologi kehidupan berbangsa.

Oleh karena itu, urgensitas pemahaman  sumpah pemuda ke 90 ini, harus mampu menggali apinya bukan abunya. Sebagai lokomotif perubahan, Pemuda harus memiliki kemampuan menghadapi masalah yang timbul akibat globalisasi  dalam bahasa Najwa Shihab, pemuda harus memastikan sumpah pemuda tetap relevan hingga kini.

Pesan moral dari sumpah pemuda adalah semangat progresif mental muda dengan kobaran komitmen, kebesaran, dan keluasan jiwa dalam memperjuangkan visi demi membentuk dan membangun bangsa. Demikian juga pemuda harus mampu mengembangkan pola pikir secara global dengan tetap memiliki karakter lokal/bertindak lokal (Think globally, Act locally).

Karena krisis kehidupan bangsa ini terjadi karena lemahnya komitmen dan semangat pengorbanan untuk membumikan idealitas ke realitas.

Dengan demikian pemuda dengan kemampuanya dalam penggunaan perangkat komunikasi berbasis teknologi informasi, mempunyai keharusan secara dinamis, menggalang pemahaman tentang nilai kebangsaan dan persatuan dengan terus mengembangkan pemikirannya yang inovatif berbasis kemauan membaca. Karena tanpa budaya literasi landasan yang digunakan untuk menyerbarkan informasi tidak akan menemukan akurasinya.

Karena hakikatnya peringatan sumpah pemuda merupakan cermin bening bagi para pemuda untuk meneladani para pemuda tempo dulu dalam merawat kebhinikaan menjadikan kekuatan berjuang meraih kemerdekaan sekaligus menjadi momentum inspiratif dalam menata kembali problematika kebangsaan dari korupsi hingga kemiskinan,

dan seyogyanya peringatan sumpah pemuda ini harus berorientasi pada perubahan konstruktif dan positif dengan semangat komitmen dan pengorbanan untuk kemaslahatan bangsa. Karena komitmen dan pengorbanan inilah fase tertinggi dan terberat dalam perjuangan.

Komitmen kebangsaan dan pengorbanan untuk memproyeksikan arah bangsa Indonesia maju kedepan ada ditangan pemuda yang dalam bahasa agama disebut ( syubbanul yaum rijalul ghod ) pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Jadilah penerang ditengah kegelapan dan jadilah jalan alternatif ditengah kebuntuan intelektualitas.Selamat hari sumpah pemuda ke 90. Pemuda Indonesia Let’s Go. (*)

*)Pengurus Angkatan Muda Pembaharuan ( AMPI ) Jawa Timur