‘Tragedi’ Celana Setengah Paha

0
2223
Ilustrasi celana pendek (google)

Setiap hari Ahad pagi, biasanya saya menghadiri kajian di sebuah masjid kampus.
Alhamdulillah, jumlah jama’ah yang hadir mencapai ratusan orang plus selalu ada materi yang bikin hati jadi adem. Panitianya pun selalu menyediakan hijab pembatas kain gelap yang dipasang membentang antara tempat duduk jama’ah putra dan putri. So, jama’ah bisa konsentrasi mengikuti kajian karena nggak bisa lirak-lirik atau dilirik-lirik oleh lawan jenis.

Tapi saat saya keluar dari masjid, semua tampak berbeda. Jika di masjid saya hanya melihat beberapa pria memakai baju muslim plus celana yang rapi atau para wanita yang berjilbab syar’i, di sekitar masjid malah banyak pemandangan tidak senonoh.

Banyak diantara wanita yang memakai pakaian ketat, tanpa kerudung dan terkesan tabaruj (berhias secara berlebihan). Dan yang lebih parah, banyak yang mengenakan celana setengah paha. Ini bukan kaum Adam, melainkan kebanyakan dari mereka adalah kaum hawa yang masih remaja.

Dahulu, kalo ada wanita yang sampai kebuka pahanya di depan umum mungkin akan malu banget. Gimana nggak malu kalo organ yang paling urgent kayak gitu harus dilihat oleh orang banyak. Tapi sekarang ceritanya berbeda. Sekarang malah ada sebagian orang yang bangga kalo pahanya tersingkap. Ada juga yang memang sengaja menyingkapnya agar dilihat orang. Lho kok malah kayak gini? Alhasil, celana pendek yang ukurannya sudah mepet malah di desaign lebih ramping hingga panjangnya cuma setengah paha plus rapet banget.

Anehnya celana setengah paha kayak gitu malah banyak disukai oleh para remaja putri masa kini. Ini tampak dari mudahnya ditemui remaja putri yang mengenakan celana”aneh” di pusat-pusat keramaian, seperti mall,terminal, dan area pertokoan. Meskipun tak menutup kemungkinan wanita yang sudah berumur mengenakan celana seperti itu, tapi mayoritas pemakai celana setengah paha adalah kelompok usia remaja. Rasa malu dan sungkan seolah sudah tak ada lagi. Tak mengherankan jika para lelaki harus selalu extra gadhulbashar (menundukkan pandangan) saat melewati tempat-tempat seperti itu.

Fenomena ini menjadi keprihatinan banyak kalangan. Nggak hanya orang tua lho, kalangan akademis pun mengaku prihatin dengan trend celana setengah paha ini. Bahkan kalo di Washington, bentuk keprihatinan pemerintahnya sampai mengeluarkan Perda Larangan berpakaian tidak senonoh. kan di Indonesia ada juga UU Pornografi? Betul memang ada UU kayak gitu, tapi efeknya belum membumi alias belum kelihatan banget. Buktinya, bentuk pornografi kayak gitu belum ditangani secara serius oleh pemerintah dan masyarakat. Jangan salahkan kalo masyarakat kita makin hari makin menikmati ‘acara bebas’ ini.

Belum selesai urusan celana setengah paha, budaya ini malah menggandeng tindak maksiat yang lain. Sebut saja perzinaan. Kita memang tidak bisa tutup mata dan telinga untuk masalah yang satu ini. Betapa banyak kasus perzinaan di kalangan remaja yang awalnya cuma dari ngeliat paha. Dari ngeliat itu kemudian dilanjutkan hingga perzinaan,bahkan pemerkosaan. Tak mengherankan jika angka pemerkosaan, hamil diluar nikah, perzinaan, dan seabrek maksiat lainnya selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Celana setengah paha juga menggandeng efek negatif lain dari sudut kesehatan. Akibat budaya ini, banyak wanita yang menderita penyakit kanker kulit. Mereka harus berjuang dengan rasa sakit karena sengatan matahari telah merusak kulit. Lebih dari itu, alat-alat kosmetik yang konon bisa melindungi bagian dari sinar matahari malah ada yang menyebabkan penyakit. Nah lho! Anehnya masih banyak yang nggak jera dengan memakai celana setengah paha,
‘ampun dahhh…”.

Catatan La Tahzan Ukhty