Tradisi Lombe, Mutiara Terpendam Pulau Kangean

0
779
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

TradisiLombemerupakantradisiturun-temurun yang dilaksanakanwargaPulauKangean. Sepasangkerbaudiadukecepatannyadengansepasangkerbaulainnyatanpajoki (tidaksepertikerapansapi),pasangankerbauitudigiringolehkuda-kuda yang masing-masingdinaikijoki. Fungsijokikudauntukmenggertakkerbau-kerbauitusambilmemukidariarahsampingkanankiri, agar pasangankerbaumelajulebihcepatsampai finish.

Ketikaberlangsung “pertunjukan” ini, para pengunjungjugaikutberebutuntukmemukulkerbau yang larikencang di lapangansepanjangjalanlapang (biasanyamenggunakansepanjangjalandesa) tempatkerapanataulombaituberlangsung. Alatpukulnyadarikayudenganberbagaiukuran.

Bahkan, para pengunjung ikut mengejar kerbau untuk bisa memukul berulang-ulang. Dari situlah fungsi joki kuda juga untuk menghalang-halangi penonton agar tidak banyak memukuli kerbau yang dilepas.

Menurut keyakinan masyarakat setempat, setiap kali seseorang dapat memukul kerbau yang sedang berlari itu, hanya sebagai diniatkan untuk memukul dan mengusir roh halus yang disimbolkan sebagai roh jahat yang bergentayangan menyusup atau menyerupai binatang.

karena didalam kerbau disimbolkan terdapat sejumlah penyakit dan marabahaya yang bisa mengganggu keselamatan dan ketentraman warga, khususnya dalam pertumbuhan hasil pertanian.

Tradisi lombe sudah ada sekitar tahun 1970-an, tetapi sebelum itu menurut orang tua dan kakek atau sesepuh sudah membicarakan tradisi lombe jadi tradisi inisudah sejak zaman dahulu sebelum tahu 1970-an. pertama kali lombe lokasinya berada di lorong erreng desa angkatan Kecamatan Arjasa sampai tahun 1995, setelah itu membuka lahan baru lagi di tahun 2010 di Desa Lorong Asta angkatan sampai 2012 akhir.

Setelah itu mengganti lokasi lagi di lorong jebeng Desa Angkatan sampai 2015 akhir, setelah itu membuka lagi di binteng dusun bukkul lapangan pantai indah desa kalisangka mulai 2016 awal sampai saat ini. Alasan kenapa selalu ada pergantian lokasi karena di pulau kangean tidak mempunyai lapangan resmi (tidak ada bantuan dari pemda), adanya lapangan ini dikarenakan adanya inisiatif dari masyarakat kangean itu sendiri dengan cara urunan untuk menyewa lapangan, menurut Musahra (62).

Dahulu tradisi lombe dilakukan sesudah menanam padi sampai waktu panen tujuannya untuk sembari menunggu panen, sebelum orang melakukan tradisi lombe yaitu melakukan tatangenan (kerbau harus di taruh di depan rumah) dan paginya yaitu di mandikan dan di hias tujuannya, supaya tidak malu dalam lombenya dan pada malam tatangean ada ritual mamaca dan juga ada music tradisional dan diiringii dengan tari tradisional.

Mulai dari tahun 2010 tradisi lombe mulai mengalami perubahan dengan menyesuaikan zaman lebih menjadi tradisi modern, sedangkan pada tahu 90-an masih tradisi lombe kuno dengan system kekalahan dan kemenangan tidak ada yang menentukan, sedangkan pada masa sekarang sudah ada finis dan start yang ditentukan oleh panitia dan kemenangan sudah ada yang menentukan.

Dimulai tahun2010 dalam satu tahun yaitu dilakukan dua kaliLombe, karena dipengaruhi oleh hasil panen yang dua kali dalam satu tahun, . Tradisi lombe saat start dan finis ditandai dengan pengankatan bendera, Dalam satu kali pelaksanaan tradisi lombe dilakukan tujuh minggu dan minggu ke delapan atau kesembilan dilaksankaanya final atau berakhirnya Tradisi Lombe dan untuk final bekerja sama dengan bank BRI untuk hadiahnya.

Ketika ada tradisi lombe harga kerbau semakin tinggi, dan juga dilihat dari kualitas kerbau dengan kecepatan lari yang tinggi, jadi tradisi lombe ini sangat berpenngaruh terhadap harga dii Pulau kangean, ketika tradisi lombe telat untuk dilaksanakan banyak masyarakat yang mendesak kepada panitia pelaksan untuk segera melaksanakan tradisi lombe.

Panitia dari tradisi lombe ini di bentuk berdasarkan musyawarah dan mufakat oleh para tokoh-tokoh budaya kangean dengan kreteria berpengalaman dan mempunyai rasa tanggung jawab.Tradisi lombe ini di lakukan oleh masyarakat kangean karena meneruskan tradisi yang ditinggalkan oleh nenek moyang khususnya para petani sehingga akan membuat harga kerbau dari para petani. Peralatan kerbau sebelum pertandinganOnongan, Pangaler, Jemang, Salobung, Sentang, Cara-cara, Kronong

Orang yang memelihara kerbau yaitu semua orang dari lapisan masyarakat yang berekonomi rendah hingga tinggi hal ini karena ketertarikan terhadap Tradisi Lombe. Masyarakat yang menonton tradisi lombe yaitu dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Kehadiran masyarakat yang menonton tradisi lombe yaitu sekitar hingga sampai 5000, meskipun cuaca tidak mendukung, dan mayoritas penonton dari tradisi lombe yaitu dari kalang petani dan kalangan pegawai.

Peneliti : Kartika,Ulum, Irfan
Mahasiswa Universitas Negeri Malang