Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Oleh Dr. Fuad Bawazier

“Saya sudah berkali kali mengingatkan dan menuliskan bahwa sepanjang tahun 2018 ini rupiah cenderung akan melemah”.

Mungkin saja ada waktu2 tertentu rupiah seperti menguat tetapi itu hanya sementara saja dan selanjutnya akan melemah lagi. *_Jadi kalau ditarik garis lurus atau berjangka relatip panjang, pergerakan rupiah akan terus melemah_*. Rupiah kalau Menguat sifatnya sementara saja misalnya karena bunga rupiah dinaikkan atau dolar pas melemah karena faktor yang tidak ada hubungannya dg ekonomi Indonesia, atau karena sedang ada intervensi di pasar valas oleh BI dll. Tetapi semua “obat kuat” itu bukan nya tidak berisiko. Naikkan bunga akan memberatkan *_Perekonomian kita dan semakin sulit bersaing dengan negara lain_*. Intervensi valas akan menggerus cadangan devisa kita yg terus menurun. Karena inti melemahnya rupiah adalah supply dolar atau pemasukan dolar ke ekonomi Indonesia LEBIH KECIL dari demand atau permintaan atau kebutuhan akan dolar, maka rupiah melemah. Dalam bahasa ekonominya adalah karena defisit transaksi berjalan Indonesia tahun ini diperkirakan USD25Miliar. Defisit atau ketekoran inilah sumber utama melemah nya rupiah terhadap dolar. *_Jadi jangan bingung atau terus menerus menyalahkan ekonomi global dsb*_. Defisit transaksi berjalan ini terjadi *_karena Neraca Perdagangan (ekspor minus import barang dagangan) kita defisit*_. Begitu pula Neraca Transaksi Jasa yg deficit. Pemerintah menyoba menutupi defisit valas ini dengan banyak cara antara lain dg menarik utang valas atau hot money lainnya. *_Ini bukan cara yg sehat dan bahkan bisa semakin terjerumus. Fundamental ekonomi yg lemah ini juga diikuti dengan defist APBN_*. Jadi praktis *_ekonomi Indonesia ini defisit atau tekor dari semua jurusan_*. *Utang valas pemerintah dan swasta termasuk BUMN yg konsisten naik tajam juga mulai mengkhawatirkan kreditur pada umumnya bhw jangan jangan kedepannya Indonesia akan kesulitan atau gagal bayar utang*.
Dilain pihak pasar juga melihat ketergantungan ekonomi Indonesia pada barang import terutama pangan dan energi yg mau tidak mau akan membutuhkan valas. *_Klo mau “melihat” bagaimana lemahnya APBN kita dan ketergantungan kita pada import (yg berarti perlu valas), saya punya 2 (dua) pertanyaan atau alat uji yg sederhana_* yaitu:
1. Apakah APBN bisa berjalan bila pemerintah tidak menarik utang baru dalam 2-3 bulan saja? Sy kira roda pemerintahan atau APBN akan collapse tanpa utang baru.
2. Atau mampukah kita menyetop impor gandum yg defacto sdh menjadi pengganti pangan beras? *_Sy kira rakyat akan kesulitan atau bahkan “kelaparan”_*.

HotNews:  Siswi Sumenep Jadi Budak Nafsu Oknum ASN

Jadi bagaimana dengan
Kemandirian ekonomi yg dijanjikan pemerintah Jkw? Saya kira sedang Berjalan sebaliknya.
Apalagi pemerintah, karena tahun politik, sedang getol getolnya *_melaksanakan berbagai policy yang cenderung populis atau semacam kampanye demi kemenangan pilpres 2019?_* Pemborosan2 APBN demi popularitas di dalam negeri maupun luar negeri *_termasuk jadi Tuan rumah pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia perlu ditinjau kembali_*. Tapi Itulah enaknya *_incumbent yang bisa berkampanye legal dengan biaya negara yang menjadi beban pemerintah atau generasi yang akan datang_*.

Dr. Fuad Bawazier, pengamat ekonomi.*