Madura Expose. Pengamat Politik, Rocky Gerung menyebut media-media yang tidak mau memberitakan Reuni 212 telah melakukan pemalsuan sejarah dan penggelapan pers Indonesia, Selasa (4/12/2018).

Pernyataan Rocky disampaikan saat menjadi pembicara di Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One.

“Bayangkan misalnya TV One pada waktu itu, gensetnya mati, listriknya korslet. Maka nggak ada yang memberitakan peristiwa sejarah itu,” kata Rocky.

Jadi, lanjut Rocky, kalau pers nasional tidak memberitakan, itu artinya memalsukan sejarah.

“Karena orang nggak ada yang tahu, bahwa ada satu peristiwa, mau dikasih nama apa aja itu, dengan kumpulan orang sebanyak itu, dengan ketertiban, dengan kepemimpinan intelektual, tapi tidak dimuat oleh pers. Mau disebut apa? Bukankah itu penggelapan sejarah Pers Indonesia,” ungkap Rocky.

Karena peristiwa tersebut adalah peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Terlepas dari apapun motif dan sensasinya.

“Peristiwa Reuni 212, yang semula pada tahun 2016 adalah momen, maka sekarang ini sudah berubah menjadi monumen. Jutaan orang disana berkumpul secara damai,” tandasnya.

Lalu bagaimana mungkin jika sebagian orang ada yang berpandangan untuk apa ada Reuni 212 kan masalah Ahok sudah selesai.

Rocky mengambil perumpamaan dengan peringatan 17 Agustus. Bukan kah peristiwa Proklamasi itu sudah selesai pada tahun 1945?

Rocky Gerung menyebut bahwa Reuni 212 adalah penanda kapal rezim ini sudah oleng dan sebentar lagi akan tenggelam.

“Peristiwa di Monas itu adalah the beginning of the end,” demikian Rocky.

(swr/ilc)
Simak videonya berikut ini:

HotNews:  35 Pelaku Pengrusakan Atribut Demokrat Mengaku Disuruh PDIP