ISTIQOMAH lebih hebat dari seribu karomah. Demikian pernyataan Habib Idrus bin Hasyim Alatas, ulama kharismatik yang dituakan terkhusus dari kalangan habaib, ketika menyaksikan jutaan massa yang memenuhi kawasan Monas Jakarta dan sekitarnya pada Reuni 212, Minggu (2/12/2018).

Istiqomah adalah sebuah amal yang dikerjakan secara terus-menerus tanpa putus. Istiqomah juga bisa diartikan dengan konsisten. Ketika seseorang tak berpegang teguh dengan apa yang diperjuangkannya, maka ia disebut inkonsisten.

Inkonsistensi bisa dikatakan hal yang paling ditakutkan bagi para pejuang keadilan. Karena itu banyak doa yang menekankan husnul khotimah atau akhir yang baik. Maksudnya, perjuangannya yang dibangun tentu akan sia-sia bila diujung malah berakhir buruk karena hasil dari inkonsistensi.

Lebih dari itu, muslim dalam setiap rakaat sholat harus membaca kalimat “ihdinas sirotol mustaqim” yang maksudnya adalah memohon kepada Allah untuk dianugerahi jalan istiqomah atau sirotol mustaqim. Konsistensi atau istiqomah di jalan yang diridhoi Allah SWT dapat dikatakan harapan setiap manusia.

Mustaqim dalam surat Alfatehah bukan saja bermakna lurus tapi juga punya pengertian konsistensi atau istiqomah. Bukan lah yang berlebihan, bila seorang muslim dalam setiap sholatnya terus dituntut untuk konsisten dalam menegakkan keadilan sosial yang merupakan visi pengutusan para nabi.

{لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ……
“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia menegakkan keadilan…” (Q.S Al-Hadid: 25).

Menurut Habib Idrus bin Hasyim Alatas, Reuni 212 kedua, Ahad (2/12/2018), merupakan hasil dari istiqomah tanpa pamrih Habib Rizieq Shihab (HRS) dalam mengawal perjuangan menegakkan keadilan di negeri ini. Disebutkan bahwa massa yang berkumpul di Reuni 212 kedua mencapai lebih dari 11 juta orang. Bahkan ada yang menyebutkan hingga 15 juta orang, yaitu dua kali lipat dari aksi 212 pada tahun 2016.  

Sementara itu, HRS menyebut kehadiran umat dalam jumlah besar di Reuni 212 kedua bukan lah hasil kreasi pihak manapun. “Semua itu kehendak ilahi,” tegas Yusuf Martak, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama dalam wawancaranya di TV One, sambil mengutip pernyataan HRS.

Habib Idrus juga menyebut terkumpulnya ummat sebanyak itu sebagai wujud nyata karomah HRS. Karomah adalah istilah yang setara dengan mukjizat tapi diperuntukkan kepada ulama yang istiqomah. Sementara istilah mukjizat diperuntukkan kepada utusan Allah SWT.

Karomah kemudian diistilahkan dalam bahasa Indonesia menjadi keramat. Karena itu, tradisi religius negeri ini menyebut perilaku langka seperti jalan di atas air, sembuhkan orang sakit, tundukkan binatang buas, taklukkan serangan kolonial dan lain-lain sebagai keramat para wali atau waliyullah.

Wali bisa dikatakan sebagai sebutan lain dari ulama yang konsisten. Keramat adalah tanda waliyullah yang dalam tradisi di negeri ini tergambarkan dalam figur Wali Songo. Hasil dakwah di negeri ini dapat dikatakan sebagai karomah atau keramat para Wali Songo dan para penerusnya.

Habib Idrus yang juga termasuk orang yang disegani HRS selalu menekankan poin istiqomah dalam setiap pertemuan dengan para ulama termasuk dengan HRS sendiri. Bahkan beliau menekankan bahwa istqomah bisa mengalahkan seribu karomah. Hal itu terbukti pada istiqomah HRS dalam mengawal negeri ini ke arah ideal.

Sangat disesalkan, sejumlah ulama yang bisa jadi hadir saat aksi 212 pada tahun 2016 tapi tak hadir dalam Reuni 212 kali ini. Padahal pesan politik dalam Reuni 212 kedua lebih dahsyat dari aksi 212 pada tahun 2016 mengingat skalanya di level nasional, yaitu ganti presiden dalam Pemilu 2019.

Tapi secara mengejutkan, meski tak dihadiri sejumlah ulama kondang, umat makin bergelora hadiri Reuni 212 kedua memenuhi seruan HRS. Tua dan muda hingga anak-anak, bahkan sempurna dan cacat pun hadir penuh semangat.

Dzikir tetap dikumandangkan dari pagi dini hari. Kebersihan pun tetap terjaga. Semua itu bukti bahwa istiqomah melebihi seribu karomah. [***]

Alireza Alatas
Pembela ulama dan NKRI, aktivis Silaturahmi Anak Bangsa (Silabna).