http://www.policeline.co/

Kemarin, Jumat siang pasca ibadah shalat Jumat, saya hadir di diskusi tentang Pancasila dan kerukunan bangsa di Tebet. Banyak tokoh nasional dan senior datang, termasuk juga Sekretaris Kabinet Kerja Pramono Anung, calon Kepala Badan Pemantapan Pancasila Yudi Latif, aktivis 80-an Syahganda Nainggolan, mantan legislator DPR RI Hatta Taliwang dan Djoko Edi Abdurrahman, putri proklamator Sukmawati Soekarnoputri, dalam acara yang dimoderatori Ketum PGK Bursah Zarnubi.

Sangat menarik dan ‘dalam’ kajian forum tersebut, mengungkap banyak fakta sejarah tentang pergerakan era revolusi kemerdekaan 1945, juga pertarungan gagasan para pahlawan pendiri bangsa terkait nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang seharusnya menjadi panduan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara terkini, di tengah bahaya ultraliberalisme yang mendisintegrasi Indonesia.

Jarang saya mampu bertahan lama dalam sebuah acara diskusi belakangan ini, tapi kemarin sejak awal hingga akhir acara saya serius cermati tak beranjak dari kursi, karena kerinduan saya akan manifestasi Pancasila sesejatinya, saat pejabat korup dan politisi busuk merajalela, serta ketimpangan sosial yang menggila.

Tadi malam, Jumat sekitar pukul 19.30 WIB, saya menerobos kemacetan panjang menuju sebuah tempat di pinggiran Jakarta, guna memenuhi janji bertemu dengan sahabat lama pejuang kerakyatan yang sangat saya kasihi.

Tak terasa, puluhan tahun saya tak berjumpa Comandante Usman dan Comandante Tajod, yang dulu bertahun-tahun berjuang bersama dalam organisasi Gerakan Pemuda Kerakyatan (GPK), yang di medio 2002-2004 sekitar 30 kadernya di berbagai provinsi menjadi tahanan dan narapidana politik kasus penghinaan presiden di era rezim Mega-Hamzah, karena kami meminta turunkan harga dan menolak privatisasi aset strategis bangsa ke asing.

Kembali kami teguhkan janji, bahwa perjuangan harus tetap dilanjutkan demi Indonesia yang lebih baik dan berkeadilan, agar rakyat maju dan sejahtera.

Sabtu, sekitar pukul 01.30 WIB kami berpisah, dan saya kembali menyusuri jalan yang lengang untuk pulang beristirahat, agar Sabtu siang bisa berkunjung ke beberapa sahabat lama pejuang kerakyatan di pinggiran Jakarta lainnya.

Gong xi fat cai xin nian kuai le, selamat tahun baru Imlek 2568 untuk saudara-saudariku etnis Tionghoa. Kita harus tetap satu dan bersatu dalam panji-panji Sang Saka Merah Putih dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta. Katakan tidak pada penista agama!

Jakarta, Sabtu dinihari, 280117


loading...