PKL setengah mati bertahan di area lapangan Giling Sumenep setelah mereka direlokasi dari Taman Adipur sejak 1 Syawal 1437 H. lalu. (Dok.Maduraexpose.com)
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MADURA EXPOSE–Kesabaran para pkl yang menjadi korban relokasi wakil bupati sumenep achmad fauzi mengaku makin hari kian tersiksa dengan sepinya pengunjung, yang berimbas anjlok penghasilan mereka yang dinilai tidak seberapa.
Bahkan yang lebih menyakitkan bagi kalangan PKL, tiap hari mengaku kelimpungan untuk sekedar buang air kecil maupun berwudhu’ dan shalat sangat kesulitan.
“Diilapangan Giling Sumenep ini, pembeli sepi dan tidak disediakan kamar mandi. Harusnya dipersiapkan dulu tempatnya yang representatif,bukan malah begini,mau buang air kecil saja susahnya minta ampun,” ujar Basri, salah satu PKL yang menjadi korban relokasi.
Basri menambahkan, kalangan PKL itu tidak menyangka jika Wabup Fauzi tega “membuang” mereka ke tempat yang dipadati perkantoran dan mengganggu jalan umum.

“Malah untuk shalat kami harus menumpang ke mushalla Kemenag dan mencari masjid terdekat yang jaraknya tidak dekat,” ujar Basri, salah satu PKL kepada MaduraExpose.com, Kamis (28/7/2016).
Alumni STKIP PGRI Sumenep inu mengaku kecewa dengan kebijakan Wabup Sumenep yang telah memindahkan ratusan PKL itu ke tempat yang menurutntnya sangat tidak repfresentatif.
“Kami berharap agar PKL dipindah ke tempat yang layak dan lebih representatif. Kalau di Giling ekonomi kami hancur karena sepi pembeli,” pungkasnya. [Awi/Feri]