Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Saat ini kondisi Puskesmas pembantu (pustu) Desa Bragung, Kecamatan Guluk, Sumenep makin terlihat kumuh dan tak layak pakai. Bagian dinding banyak dipenuhi lumut dan mengelupas. Begitu juga dengan bagian atap yang terbuat dari genting, warnanya sudah berubah seperti gumpalan lumut yang menjijikkan, ditambah lagi bagian kayu atap yang mulai keropos dan rawan ambruk pada saat turun hujan disertai angin kencang.

Jeleknya fasilitas umum juga terlihat mencolok di bagian luar dan dalam pustu itu. Dan berdasarkan informasi yang dihimpun Infomadura.com menyebutkan, pustu ini sudah lebih dari 14 tahun tak ada perbaikan rehab sama sekali. Sedang biaya perawatan yang masuk ke penanggung jawab Pustu hanya Rp.750.000 per tahun. Bantuan sekecil itu dinilai banyak kalangan sangat tidak masuk akal, sedang harga kebutuhan yang diperlukan terus merangkak naik.

Pantauan Memo dilapangan, Pustu Desa Bragung tergolong sangat diminati oleh masyarakat, mengingat letak geografis berada ditempat keramaian, karena bersebelahan dengan salah satu pasar tradisional yang ramai pengunjung. Bahkan pengakuan dari petugas piket di Pustu itu, per harinya, jumlah pasien bisa mencapai antara 15 sampai dengan 30 orang.

“Cuma sayangnya, pelayanan yang baik di pustu Bragung ini tidak ditopang dengan fasilitas yang memadai. Lihat saja, fisik bangunan ini sudah mirip dengan kandang sapi”, terang Edi, salah satu warga yang kebetulan mengantarkan keluarganya ke pustu Desa Bragung, Kec. Guluk-Guluk, Sumenep.

Pantauan Memo dilokasi, atap bangunan Pustu Bragung mulai kocar kacir. Kayu plafon yang berfungsi sebagai penyangga genting mulai terlihat kropos. Dinding dan lantai kamar sudah tidak layak digunakan dan diperlukan adanya renovasi secepatnya. Dinding kamar yang terbuat dari hasbis juga banyak yang hancur dan reruntuhannya sangat berbahaya bagi keselamatan para penghuninya.

“Kalau tidak segera dilakukan perbaikan atau rehab secepatnya, saya khawatir akan menelan korban. Pustu ini sudah sangat tidak layak ditempati. Sementara warga desa sangat menyukai pelayanan baik di pustu itu”, sesal Pak Heri, warga Desa Bragung pada reporter Infomadura.com.

Pihaknya juga meminta kalangan legislatif untuk ikut memperjuangkan kepada pemerintah daerah, agar renovasi Pustu Bragung dianggarkan tahun ini.

“Percuma kita punya wakil rakyat dari daerah sendiri, kalau tidak bisa memperjuangkan kepentingan masyarakat. Apalagi ini menyangkut pelayanan kesehatan umum. Untuk itu, kami berharap para anggota dewan segera mengambil tindakan kongkrit”, tandasnya.

Sementara Bambang Sutrisno, AMK, hingga berita ini diturunkan masih belum bisa dimintai komentarnya, terkait jeleknya bangunan Pustu Desa Bragung, yang oleh beberapa warga setempat digambarkan semirip kandang babi.

“Puluhan tahun Pustu Bragung ini tidak ada perbaikan dari pemerintah daerah. Semoga pak Bupati mendengar keluhan masyarakat kecil di pelosok desa Bragung ini”, celetuk salah satu warga sambil menutup bibir dengan telunjuknya. (fer)