Yusril Ihza Mahendra/Istimewa.
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Beberapa hari yang lalu, ada pelaku survey datang dari salah satu universitas negeri di Indonesia yang menempatkan Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra bukan seorang Cagub yang diinginkan masyarakat. Benarkah demikian? Padahal, seperti kita ketahui, mungkin bagi masyarakat yang aktif membaca berita dan mengamati media sosial, justru nama Yusril selalu menempati posisi teratas daripada bakal calon lainnya.

Berikut analisa dari pengamat politik Syahganda Nainggolan soal survey tersebut. Tulisan ini didapat oleh voa-islam.com berupa siaran pers dan secara viral menyebar di media. Simak tulisannya.

“Beberapa hari lalu, kita disajikan hasil survey “Menakar Kandidat DKI 1”, yang menempatkan Yusril Izha Mahendra semuanya “underdog” pada setiap indikator yang disurvey.

Riset ini menggunakan metoda kuantitatif, dengan responden 206 orang yang didahului dengan FGD untuk menyusun variabel penelitian.

Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel, yakni kapabilitas dan Karakter personal. Kapabilitas mempunyai 6 dimensi, yakni visioner, intelektualitas, governability, kemampuan politik, kemampuan komunikasi politik dan leadership. Sedangkan variabel Karakter personal mempunyai dua dimensi, yakni integritas moral dan temperamen.

Pimpinan riset, Professor Muluk menjelaskan bahwa sampel ditarik dari jumlah pakar yang ada di database Lab PsiPol, sebanyak 250 orang (populasi). Lalu 206 sampel yang diambil, melakukan proses “expert judment” thd indikator- indikator yang ada.

Kebohongan Ilmiah

Secara kasat mata sebenarnya kita sudah tahu bahwa survei ini didasari motif yang tidak netral. Sebab, Muluk merupakan pendukung Jokowi dan Ahok sepanjang masa. Namun, ada baiknya kita juga pertimbangkan kelemahan ilmiah studi ini. Pertama, kesalahan melakukan sampling. Standar elementer penelitian kuantitatif adalah menarik sampel…. (Robi/voa-i