Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

JAKARTA (MaduraExpose.com)—Penangkapan admin The Family MCA (Muslim Cyber Army), kelompok yang diduga kerap menyebarkan konten hoax oleh pihak kepolisian mendapat perhatian masyarakat luas. Banyak pihak yang bertanya-tanya perihal wujud dari MCA.

Ustadz Hilmi Firdausi, pendakwah dan praktisi media sosial mengungkapkan bahwa MCA hanyalah sebuah julukan, alias bukan organisasi yang jelas secara struktur.

“MCA ini sebenarnya hanya julukan saja. Mau itu namanya Pejuang media sosial, jihadis media sosial itu sama. Tugas MCA adalah menyuarakan yang haq, berteriak jika ada kezaliman, dan beramar ma’ruf nahi,” kata Ustadz Hilmi saat menjadi narasumber pada Indonesia Lawyers Clubyang disiarkan TvOne, Selasa (6/3/2018) malam.

Dikatakan Ustadz Hilmi, nama MCA ini mulai populer setelah ramai kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pada 2016 silam. MCA dinilai menjadi corong informasi dalam aksi 411, 212 dan seterusnya.

“MCA itu ada sejak kasus penistaan agama. Sekitar tahun 2016. Salah satu fungsi MCA ketika itu adalah salah satu corong publikasi. Karena agak berat mengumpulkan segitu banyak manusia jutaan manusia dalam satu waktu jika tidak ada publikasi massif dari MCA,” ungkap Ustadz Hilmi.

Menurut Ustadz Hilmi, setiap Muslim bisa dikatakan bagian dari MCA kalau mereka memiliki smartphone serta memiliki ghirah untuk berdakwah di dunia maya. “Nah ini perlu yang kembali saya klarifikasi, MCA itu setiap netizen muslim yang memiliki smartphone dan mempunyai ghirah untuk mengcuounter opini-opini yang menyesatkan,” terang Ustadz Hilmi.

Ustadz Hilmi melanjutkan, ” Tugas MCA adalah menyuarakan yang haq, berteriak jika ada kezaliman, dan beramar ma’ruf nahi munkar. Akun-akun yang menebarkan kebencian terhadap Islam, kebencian terhadap ulama itu dideteksi oleh MCA. Lalu dimention ke pihak kepolisian. Tak hanya mencounter opini sesat, Cyber Muslim ini juga memiliki fungsi dakwah.”

Ustadz Hilmi kemudian mencontohkan ketika terjadi gerhana bulan belum lama ini. Kesadaran masyarakat luas untuk melakukan shalat gerhana di masjid-masjid adalah bagian dari kesuksesan Cyber Muslim mensosialisasikannya. Sebelumnya masyarakat sangat awam terkait shalat gerhana bulan dan faedahnya.

Penangkapan pihak kepolisian atas oknum MCA ini diapresiasi Ustadz Hilmi. Hanya saja, Ustadz Hilmi berharap pihak kepolisian tidak menstigma bahwa MCA pasti penyebar hoax. Hal ini juga sempat menjadi kekhawatiran netizen yang menyerukan dakwah di dunia maya dicap sebagai MCA negatif.

Ustadz Hilmi juga mengungkapkan bahwa MCA atau apapun namanya akan terus ada sampai kapan pun. “MCA ini akan tetap ada sampai kapan pun, selama muslim itu merasakan ketidakadilan. Kedua, tugas Cyber Muslim adalah fungsi dakwah. Dakwah ini akan ada sampai hari kiamat,” tutur Ustadz Hilmi mengakhiri pembicaraan.*

(Syf/voi)