Moeldoko ajak perangi ISIS dengan “SUMUK”

0
519

20140905Aksi-Solidaritas-Wartawan-050914-Adm-2
Seorang jurnalis Indonesia membawa poster penolakan ISIS saat aksi damai mengecam kebrutalan ISIS, di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (5/9). ISIS yang sangat ekstrim dan radikal itu telah membunuh secara brutal beberapa wartawan Barat; selain membasmi etnis minoritas berusia ribuan tahun dan berpopulasi sangat sedikit, Yazidi, dan bahkan sesama umat Islam yang mereka pandang tidak sehaluan. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, menyatakan, gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) dapat diperangi dengan SUMUK atau Solidaritas Umat Muslim Untuk Kebhinnekaan atau Keberagamaan.

“Kebhinnekaan atau keberagamaan itu ciptaan Allah, karena itu kalau ada yang melawan kebhinnekaan berarti melawan kehendak Tuhan,” katanya, saat meresmikan Pesantren Rehabilitasi Mental Az Zainy di Tumpang, Malang, Jumat malam.

Di hadapan ribuan masyarakat dan ulama se-Malang Raya yang menghadiri peresmian pesantren itu, dia menyebut kata ISIS dan SUMUK sebagai kontra pelesetan dari bahasa Jawa.

Isis dalam bahasa Jawa berarti sejuk, sedangkan sumuk dari bahasa Jawa pula adalah panas atau minimal gerah dalam bahasa Indonesia. Artinya, keberadaan ISIS justru membuat “panas” di mana-mana.

Pesantren yang dia resmikan itu mendidik 1.600-an orang gila, pecandu narkoba, dan kelainan mental lain.

“ISIS musuh bersama. Mereka sudah mulai ada di Indonesia dan kami sudah mengantongi peta kekuatan mereka, karena kami sudah mendeteksi pengikuti ISIS dari sini yang pernah ke Turki, Suriah, Irak, dan sebagainya,” katanya.

Menurut dia, pesantren yang merehabilitasi berbagai jenis kelainan mental itu penting, apalagi pengikut ISIS dan mereka yang suka meledakkan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya itu juga “orang gila baru” yang juga harus diperangi.

“‘Orang gila baru’ itu lebih berbahaya daripada orang gila yang dirawat di pesantren ini, karena itu saya mengajak para ulama dan masyarakat bekerja sama dengan prajurit saya di Kodam, Korem, Kodim, Koramil, hingga Babinsa, untuk membangun nasionalisme atau sumuk itu,” katanya.

Namun, katanya, rehabilitasi masyarakat berkelainan mental seperti di Pesantren Rehabilitasi Mental Az Zainy itu juga sangat penting.

Pengasuh Pesantren Rehabilitasi Mental Az Zainy, KH Zain Bay, bangga atas kedatangan Moeldoko dan rombongan untuk meresmikan pesantren yang memiliki perpaduan arsitek Timur Tengah dan Eropa itu.

Peresmian juga ditandai pembacaan Deklarasi Penolakan ISIS oleh ulama se-Malang Raya yang dibacakan KH Mashudi Busyiri.

“WHO mencatat penderita gangguan jiwa pada suatu negara itu saat ini sudah 30 persen dari penduduk suatu negara, dengan tiga persen di antaranya gila berat atau kalau di Indonesia ada sekitar 7 jutaan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko juga memuji kebersamaan antara ulama, umara, dan rakyat dalam berbagai kegiatan di Pesantren Rehabilitasi Mental, di antaranya istighosah, pengajian rutin, atau pertemuan mengkaji Al Quran.