HMI/net

Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi dan Kapolri dari Kader HMI

KEPADA Yang Terhormat Bapak Presiden RI Joko Widodo dan Bapak Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian di tempat.

Saya yang menulis surat terbuka ini adalah seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dilahirkan dan tumbuh besar di Bangsa ini. Saya menulis surat terbuka ini tepat pukul 5.00 WIB setelah solat subuh.

Dengan rendah hati ditambah penuh permohonan, datang dihadapan Bapak melalui surat terbuka ini agar kiranya bapak dapat mempertimbangkan segala hal yang bagi Saya cenderung mengembalikan rezim otoritarian yg telah kita kubur bersama 18 tahun yang lalu.

Bapak Presiden yang Saya hormati, jika mengkritikmu agar kembali ke jalan yang benar sesuai dengan amanah Tri Saktinya Soekarno adalah bahagian dari pelecehan terhadap simbol negara, Saya siap dipenjara.

Ubi kayu di impor, beras di impor, garam di impor, bahkan cangkul pun telah di impor. Hutang negara semakin membumbung. Apakah itu ajaran Tri Sakti?? Tidak! Kita tidak sedang berdiri di atas kaki sendiri

Bapak Presiden yang Saya hormati! Jika saya mengkritikmu agar bapak kembali ke pasal 33 UUD 1945 adalah penghinaan terhadapmu, Saya siap di penjara.

Merujuk laporan Bank Dunia pada tanggal 15 Desember 2015 silam, sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 0,2 persen penduduk. Tambah lagi dengan temuan KOMNAS HAM soal hampir 5.000.000 hektare tanah yg dikuasai oleh cukong. Apakah itu ajaran Tri Sakti? Tidak! Bukan itu yang diwariskan oleh Bung Karno pada anak cucunya.

Bapak Presiden yang saya hormati! Sekitar 1.000.000 lebih umat islam kemarin hadir di kantormu, termasuk Saya. Tentu ada banyak alasan yang mendorong mereka hadir. Kira-kira ada tiga, pertama yang benar-benar terpanggil karena kitab sucinya dileceh. Kedua, dia yang punya kepentingan politik atas kisruh ini. Ketiga, kehadirannya akibat akumulasi kekecewaan terhadap penegakan supremasi hukum yang cenderung tumpul saat dihadapkan pada patnermu dulu.

Nah, di sini posisi dan alasan Saya untuk hadir di istananya Bapak. Pertama, kitab suci Saya dilecehkan oleh oknum yang tidak sama sekali memiliki otoritas untuk menggunakan kutipan ayat itu. Al-Qur’an adalah pedoman hidup Saya, pentunjuk hidup Saya dan kitab ini adalah UU tertinggi yang Saya imani sampai detik ini bahkan sampai mati. Insya Allah. Amin!

Jika kehadiran Saya untuk menyuarakan kesucian Kitab Saya kemudian Bapak anggap sebagai bahagian dari gerakan politik. Silahkan tangkap dan penjarakan Saya.

Begini bapak presiden, tipikal elit itu cenderung identik dengan oportunis. Jika garakan itu kecil dia akan biasa-biasa saja, tetapi bila gelombang masa semakin membesar, ia akan menyebrang masuk untuk memungut keuntungan.

Itu kira-kira yang Saya amati kemarin, apakah itu salah? Secara pribadi saya menyalahkan, tetapi Saya juga tak punya kuasa menghardik lalu mengusir mereka dari tempat itu. Konklusinya ini alam demokrasi yang hampir meniscayakan segala hal bisa dilakukan demi mengambil keuntungan sebesar-besarnya.

Bapak Presiden yang saya Hormati!
Demi Allah Demi Rosul, Saya tidak sama sekali berada pada posisi kedua. Saya justru lebih pada urutan ketiga dari analisa di atas.

Kenapa demikian? Ada temuan BPK RI soal sumber Waras yang semestinya ditindak lanjuti oleh KPK, nyatanya BPK yang disalahkan. Penghentian reklamasi oleh beberapa menteri akibat ada kejanggalan dalam pemberian ijin. Nyatanya, Aguan dicabut masa cekalnya lalu berkunjung ke Istana. Rizal diganti Luhut olehmu, lalu reklamasi dilanjutkan. Saya ingin tanya, siapa kira-kira pemesan dan pemilik pulau buatan itu? Siapa juga kira-kira yang nanti bisa bersantai ria menikmati pulau reklamasi itu?.

Jika saya mengkritik kebijakan itu lalu saya salah, silahkan tangkap dan penjarakan Saya.

Ini untuk Bapak Kapolri yang Saya Hormati!

Pak Tito, sekitar pukul 11 malam WIB (7/11/16). Ada sekolompok anak buahmu datang ke Sekretariat PB HMI lalu menangkap Sekretaris Jenderal Institusi ini. Mereka datang seperti hendak menangkap teroris yang telah mencabut sekian nyawa.

Lalu dibawa ke Polda metro Jaya dan di ambil keterangan dan ditahan tanpa didampingi kuasa hukum, karena apa? tidak diperbolehkan oleh penyidik. Saya ingin tanya, apakah UU kita sudah berubah?.

Pak Tito yang Saya hormati! Anda harus ingat, Sekretariat adalah tempat kader-kader bangsa ini berdialektika, mentransformasikan gagasan dan pendapat demi ummat dan Bagsa ini. Di sekretariat inilah telah lahir politisi, akademisi, ulama, pebisnis, kuasa hukum dan masih banyak yang lain. Tetapi anak buahmu tidak sama sekali punya itikad baik, mereka datang seperti air bah lalu membawa salah satu simbol organisasi kami.

Pak Tito! Organisasi ini punya sejarah yang panjang, berjuang mempertahankan NKRI ini dari Agresi Militer Belanda ke II. Bersama rakyat menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Lalu puncaknya adalah mengganyang PKI yang dulunya menjadikan HMI sebagai musuh bebuyutan, dan hampir keseluruhan agenda itu dibahas di sekretariat PB HMI. Mungkin saya perlu beri tahu bapak. Di Milad HMI yang Ke III Jenderal Besar Sudirman mengatakan, HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam, tapi Harapan Masyarakat Indonesia.

Pak Kapolri yang Saya hormati!
Sebagai kader HMI, Saya sangat menyesalkan kejadian semalam yang dilakukan anak buahmu. Saat ditanyakan surat penangkapan, mereka tak menunjukan, saat hendak didampingi kuasa hukum tidak dibolehkan. Peristiwa ini hampir sama dengan penculikan para Jenderal oleh PKI lalu di bawa ke lubang buaya.

Jangan Pak Tito, jabatan yang saat ini di pundakmu adalah amanah berat yang mesti dijalakan dengan sungguh-sungguh. Jangan karena nila sedikit rusak susu sebelangga.

Pak Tito, Saya sempat mendengarkan Anda menyampaikan materi saat di undang Din Syamsuddin di Kantornya. Secara pribadi, Saya menganggap Anda adalah 1 dari sekian Polisi yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Saat itu, Saya punya ekspektasi agar Anda bisa merubah institusi ini keluar dari stigma negatif masyarakat, ternyata Saya sadar Saya telah keliru.

Bapak Presiden dan KapolrI, Saya punya harapan besar agar demokrasi ini dijaga dengan kesungguhan hati, sebab ia hadir karena diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Saat mulut pengkritik dibungkam, saat suara-sura ditukar dengan penangkapan. Pada saat yang bersaman kita sedang dibawa ke Rezim orba yang sama-sama kita benci. [***]

Abdul Syukur Oumo
(Kader HMI)

RMOL


loading...