Madura Expose–Tika Suhartatik, penyair muda berhijab ini dilahirkan di sebuah desa kecil di Kecamatan Saronggi Sumenep, baginya menulis adalah sebuah meditasi paling sunyi yang mampu menemukan arti diri. 

Penah menjadi wartawan DPRD dan surat kabar di Sumenep, pernah aktif dan menjadi pengurus LPM STKIP PGRI Sumenep , sempat menjadi Pimpinan Redaksi Majalah Retorika, dan terjun ke dunia politik sebagai calon legislatif (2009), hingga akhirnya melanjutkan studi S2 di UNMUH Surabaya (2011).

Beberapa karyanya terbit di Majalah Jokotole (Balai Bahasa Jawa Timur), Koran Madura, Radar madura, Majalah Mitra Indonesia, Reportase, Radar Minggu, Majalah Edukasi, Majalah Retorika, Info dll. 

Karya puisinya juga terkumpul dalam buku antologi puisi berbahasa Madura “Nemor Kara” (2006), dan “Jhimat” (2015) yang diterbitkan oleh Disbudparpora Sumenep. Tahun 2007 karyanya masuk nominasi ke-11 dari 25 naskah terbaik dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Depdiknas Jakarta, dan tahun 2008 kembali mengikuti LMKS pada Program Khusus, tahun 2010 cerpennya  masuk  dalam Lomba Menulis Cerpen tingkat guru SMA/MA/SMK Negeri dan Swasta seluruh Indonesia oleh Depdiknas Jakarta. 

Hingga saat ini dirinya mengabdi di sebuah Madrasah Aliyah swasta di kecamatan Bluto dan almamaternya STKIP PGRI Sumenep. (*/fer)