Ist.Pasangan selingkuh (istimewa)
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MADURA EXPOSE—Korsel dan Jepang sedang berunding untuk menyelesaikan isu jugun ianfu, wanita budak seks tentara Jepang. China, Taiwan, dan Filipina, bereaksi. Indonesia tidak sama sekali.

Beijing menanggapi kabar perundingan Korsel-Jepang soal jugun ianfu dengan hati-hati. Lu Kang, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengatakan; “Kami berharap peningkatan hubungan Korsel-Jepang akan kondusif bagi stabilitas dan pembangunan kawasan.”

Seperti Korsel, Beijing sering bersitegang dengan Tokyo soal isu kekejaman tentara Dai Nippon selama Perang Dunia II. Beijing kerap menyebut Tokyo gagal menebus penderitaan rakyat China selama perang.

Lu Kang mengatakan jugun ianfu adalah kejahatan sistematis paling tak manusiawi. Selama menduduki China, tentara Jepang mendiirkan ‘comfort stations’, di beberapa bagian China yang diduduki untuk melayani kebutuhan seks para perwira.

Korsel mulai ‘memainkan’ isu jugun ianfu dalam hubungan dengan Jepang sejak 1990-an. China relatif baru mengangkat isu serupa sejak Xi Jinping menduduki kursi kepresidenan.

Sebelumnya, China relatif tidak fokus ke masalah jugun ianfu, seperti yang dilakukan Korsel. Beijing lebih suka menggunakan peristiwa-peristiwa kemanusiaan besar, salah satunya Rape of Nanking — perkosaan massal perempuan Nanjing oleh tentara Jepang.

Awal bulan ini, Beijing membuka museum pertama yang didedikasikan untuk wanita penghibur di Nanjing, atau nanjing.
Reaksi lain muncul di Taipei, ibu kota Taiwan. Eleanor Wang, juru bicara pemerintah Taiwan, mengatakan Taipei juga akan mendesak Tokyo memulai negosiasi penyelesaian jugun ianfu.

“Jika pemerintah Jepang memutuskan mengambil tindakan positif untuk menyelesaikan masalah wanita penghibur, kami berpikir cakupannya harus komprehensif dan harus meliputi jugun ianfu dari Taiwan,” kata Wang.
Menurut Wang, Taipei akan meminta perwakilan Jepang di Taiwan menyampaikan keinginan Taipei untuk merundingkan jugun ianfu.

Posisi Taiwan, masih menurut Wang, adalah Jepang harus meminta maaf dan memberi kompensasi kepada para korban.
BACA JUGA: Hari Ini, Korsel dan Jepang Bicarakan ‘Budak Seks’

“Kami akan terus mengekspresikan tuntutan ini kepada Jepang,” ujar Wang, seperti dikutip Kyodo News.
Sebanyak 2.000 perempuan Taiwan dijadikan jugun ianfu selama Perang Dunia II. Seiring waktu, satu per satu dari mereka meninggal dunia, dan kini hanya tersisa empat. Usia mereka rata-rata 90 tahun.

Pemerintah Jepang pernah menyiapkan dana untuk disalurkan kepada para mantan jugun ianful. Taiwan mengatakan dana itu dikelola swasta, dan bukan dari pemerintah Jepang, tapi masyarakat negeri Matahari Terbit.
Lagi pula, uang itu tidak pernah diterima para mantan jugun ianfu.

Di Manila, Carlos Isagani Zarate — politisi dari Partai Bayan Muna — mengatakan Filipina akan sangat menerima skema penyelesaian seperti yang ditawarkan Jepang ke Korsel.
“Kompensasi akan membantu mantan jugun ianfu dan keluarganya melewati usia tua,” ujar Zarate seperti dikutip The Strait Times.

“Yang penting adalah Jepang menerima tanggung jawab, dan mengakui eksploitasi sistematis wanita penghibur sebagai kebijakan perang,” lanjutnya.
Zarate mengatakan 174 wanita Filipina dipaksa bekerja di rumah pelacuran tentara Jepang. Lebih dari setengahnya telah meninggal.

Bagaimana dengan Indonesia?

Hampir tidak ada catatan komprehensif soal jugun ianfu di Indonesia. Sejumlaha artikel yang ditulis aktivis relatif hanya menyebut segelintir yang masih hidup, dan tersebar di banyak kota.

Kisah Momoye, yang dibukukan Eka Hindra dan Koichi Kimura, juga tidak membangkitkan kesadaran para pengambil keputusan di negeri ini akan nasib segelintir korban perang.

Bahkan ketika China, Taiwan, dan Filipina, bereaksi atas perundingan jugun ianfu antara Korsel-Jepang, Indonesia diam saja.

[inilah.com]