Bishrie Gie, Ketum Mahasurya Madura, Jawa Timur. [Foto:Ferry Arbania/Maduraexpose.com]
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Sumenep, Maduraexpose.com—Meski beberapa bulan terakhir, kasus dugaan penyelewengan Dana Alokasi Khusus (DAK) dilingkungan Dinas Pendidikan Sumenep sempat tenggelam kepermukaan, namun bukan berarti akan lenyap begitu saja.

Pernyataan itu disampaikan Bhisrie Gie, Ketua Umum Mahasiswa Sumekar Raya (Mahasurya) saat berkunjung ke Redaksi Maduraexpose.com, Rabu Malam (25/11/2015) kemarin.

Aktivis yang masih menyelesaikan pendidikan di Kabupaten Pamekasan Madura ini bilang, terhentinya aksi dari sekelompok mahasiswa sejak beberapa bulan terakhir ini, karena pihaknya masih lebih fokus dengan kegiatan kampus.

“Selebihnya kita mengatur strategi karena pada saat kami menggelar serangkaian aksi beberapa waktu ke dinas Pendidikan Sumenep, kami menduga ada beberapa kelompok diluar Mahsaurya yang memanfaatkan gerakan kami. Kami sudah melakukan banyak evaluasi dan bertekda untuk terus mengawal kasus DAK 2013 hingga ke ranah hukum”, imbuhnya kepada Maduraexpose.com.

Masih menurut Bishrie Gie, kasus dugaan penyelewengan DAK Pendidikan di tubuh Disdik Sumenep tersebut wajib dikawal karena diduga telah menguras dana sebesar Rp 298 juta yang indikasinya melibatkan dua lembaga pendidikan di Kecamatan Pragaan dan Bluto.

Pihaknya mendesak Ahmad Shadik, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep untuk mundur dari jabatannya karena dianggap gagal mengawal roda pendidikan dengan baik.

“DAK sebesar Rp 298 juta itu harusnya dimanfaatkan untuk pembangunan gedung sekolah, tapi prkatiknya malah digunakan untuk pavingasisi dengan cara dialihkan ke lembaga pendidikan lain:, timpalnya.

Sebelumnya, Nurul Hamzah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Sumenep mengakui DAK tahun 2013 untuk dua lembaga di Kecamatan Bluto dan Pragaan itu memang tidak sesuai petunjuk teknis.

(zai/fer)

LANGGANAN KORAN EXPOSE HUB:081332778300