Madura Expose. Persoalan pembangunan Pasar Pragaan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep sejak tahun 2015 hingga sekarang belum menemukan titik terang penyelesaiannya.

Padahal, kasus yang ditangani tim penyidik Polres itu, telah tiga Kapolres berganti mulai dari AKBP Rendra Radita Dewayana (2015-2016), AKBP Joseph Ananta Pinora (2016-2017) dan AKBP Fadillah Zulkarnaen (2017-2018). Namun, dinilai masih belum menemukan titik kejelasan.

Setidaknya, itulah alasan belasan mahasiswa dari Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS) menilai kasus tersebut ngendap di meja penyidik polres hingga menggelar aksi demonstrasi di depan Mapolres Sumenep, Madura, Jawa Timur, Senin, (26/11/2018).

Pembangunan pasar Kecamatan Pragaan dianggarkan sebesar Rp 2,5 miliar pada APBD 2014. Pembangunan pasar tersebut dinilai tidak sesuai spesifikasi dan penyidik Polres telah menetapkan dua tersangka.

“Masak tiga Kapolres tak mampu menuntaskan satu kasus Pasar Pragaan?” tandas Koordinator aksi, Mohammad Sutrisno, sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja aparat kepolisian, saat menggelar aksi, Senin (26/11).

Meski tersimpan rasa kecewa terhadap kinerja Polres, mahasiswa tetap menaruh harapan kepada penegak hukum agar tidak setengah hati menuntaskan kasus Pasar Pragaan.

“Lakukan penahanan terhadap dua tersangka yang telah ditetapkan; usut tuntas keterlibatan panitia kegiatan dan pengguna anggaran dalam kasus Pasar Pragaan; serta bongkar semua mafia proyek di Kabupaten Sumenep,” tegasnya berharap.

Sementara, Kepolisian Resor (Polres) Sumenep, Madura, Jawa Timur, membantah dinilai sengaja “mengendapkan” kasus Pasar Pragaan.

Kasatreskrim Polres Sumenep, AKP Tego S Marwoto mengatakan, berkas penanganan kasus Pasar Pragaan sebenarnya sudah dinyatakan P21 atau lengkap oleh pihak Kejaksaan. Tinggal menunggu tahap berikutnya.

“Bukannya kami mengendapkan permasalahan. Kita sudah berusaha profesional. Ketika dari Kejaksaan sudah P21, kita sebenarnya ingin cepat tahap dua. Tapi atas masukan dari rekan-rekan di Kejaksaan, tahap dua itu awal bulan depan,” terangnya.

HotNews:  35 Pelaku Pengrusakan Atribut Demokrat Mengaku Disuruh PDIP

Dalam kasus tersebut, Polres sudah menetapkan dua tersangka dan jika terdapat petunjuk lain, penyidik polres akan tetap menindaklanjut. Sebab, polres tidak main-main dalam kasus tersebut.

“Kita tidak akan main-main menangani kasus korupsi,” tambahnya.

Mamang, lanjutnya, polres tidak tidak melakukan penahanan terhadap dua tersangka tersebut. Sebab, selain ada yang menjamin, Polres Sumenep meyakini yang bersangkutan tidak akan melarikan diri. Apalagi keduanya koperatif.

Diakuinya, penanganan kasus dugaan korupsi Pasar Pragaan memang tidak mudah, sebagaimana kasus pidana biasa.

“Jadi memang butuh waktu. Karena untuk menunggu hasil audit BPK saja terkadang butuh waktu. Belum lagi harus koordinasi dengan banyak pihak. Memang butuh penanganan khusus,” terangnya.

Sekedar diketahui, kasus tersebut bergulir sejak tahun 2015. Anggarannya mencapai Rp2,5 miliar. Pelaksanaan proyek tersebut diduga terjadi peyimpangan dan pekerjaannya tidak sesuai dengan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).

Bahkan, hasil pembangunan tersebut sudah dilakukan audit investigasi kontruksi bangunan oleh Universitas Brawijaya. Hasilnya, diduga ada kerugian negara sebesar Rp350 juta karena bermasalah mulai dari paving, kuda-kuda los pasar hingga pekerjaan galian tanahnya.

(krt)