Kasus Florence : Salahkah Bahasa ‘SosMed’ yang Dipakai…?

0
352

Tulisan ini bukan untuk membela Florence Sihombing,mahasiswi S-2 UGM Yogya yang menyampaikan “kekesalan”nya di Path,salah satu sosial media yang sedang “in” di kalangan anak muda Indonesia.

Mari menyimak kalimat demi kalimat yang ditulis oleh Florence Sihombing :

“Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja”

“Orang Jogja B******. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil terus enggak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL,”

Melihat gaya bahasa Florence,jelas bahwa dia sebenarnya menumpahkan kekesalan karena akibat dirinya ditolak beli BBM jenis Pertamax 95 di lajur mobil daripada harus antri berkepanjangan antri di lajur sepeda motor. Di Jakarta dan kota-kota lainnya,apa yang dilakukan oleh Florence sebenarnya seringkali terjadi,tetapi petugas SPBU tetap saja melayani konsumen tersebut. Mungkin kota Jakarta sudah terbiasa dengan budaya main serobot atau barangkali petugas SPBU-nya lebih bertenggang-rasa karena “tidak tega” melihat antrian kendaraan yang mau beli BBM harus sampai mengular begitu rupa. Kalau “space” masih memungkinkan,umumnya petugas SPBU lebih mengalah untuk mengatur supaya kendaraan sepeda motor juga bisa dilayani di lajur mobil.

Jadi,kondisi di lapangan sebenarnya tergantung pada petugas SPBU dan Manajer SPBU bagaimana cara mengaturnya supaya antrian tidak begitu panjang dan dapat menimbulkan konflik horisontal. Bisa jadi sebenarnya ada “Florence” lain yang juga kesal juga dengan antrian yang terjadi,tetapi mungkin karena tidak mempunyai akun di sosmed,maka paling hanya bisa menggerutu dan kasak-kusuk di antrian yang ada. Nah,kekesalan Florence nampaknya tersalurkan melalui kalimat yang ditulis di sosmed Path dan kemudian di dramatisir sedemikian rupa seolah Florence Sihombing melakukan “penghinaan” terhadap warga Yogya.

Masyarakat Indonesia memang belum siap benar menerima “gaya bahasa” sosial media yang menjadi “curcol” atau “curhat” si pemegang akun. Padahal bahasa gosip yang sering dipakai oleh para politisi lebih kasar dan menghina serta mengandung fitnah,lihat saja majalah OBOR RAKYAT yang isinya menghina dan memfitnah Jokowi. Juga kasak-kusuk di kalangan rakyat kebanyakan juga mengandung bahasa “makian” nya bisa memerahkan telinga yang mendengarnya.

Sosial Media memang diciptakan untuk meluapkan isi hati si pemegang akun,tetapi bila ada yang tidak menyukai kalimat “curcol” atau “curhat” pribadi si pemegang akun maka tidak perlu terburu-buru kemudian menyatakan sebagai sebuah penghinaan. Pemegang akun lain bisa memberikan balasan atau respon bila ada kalimat yang tidak pas dari status yang ditulis oleh seseorang,misalnya dengan menanyakan atau merespon dengan kalimat positip,”Mungkin itu bukan masyarakat Yogya kali,tetapi oknum SPBU yang tidak bisa ngatur….dsb”

Orang yang mudah tersinggung atau terhina,umumnya wawasan “berbalas pantun” nya kurang luas. Masyarakat tradisional di jaman dulu seringkali menggunakan pantun-pantun untuk mengejek dan menghina orang yang tidak disukai,tetapi belum pernah terdengar kemudian orang yang terkena sindiran mengajak massa untuk demo dan berlaku kasar kepada si pembuat pantun. Yang dilakukan adalah juga berbalas pantun saling mengejek tanpa menggunakan kekerasan dan “okol” ; Tetapi anehnya di era modern seperti sekarang ini,justru ada orang-orang yang tidak siap menerima Teknologi Informasi dalam bentuk sosial media,mereka membaca kalimat “curcol” atau “curhat” pribadi yang ditulis dalam bentuk status di sosmed,tetapi dibacanya dengan menggunakan gaya bahasa dan suasana hati dirinya sendiri. Yang terjadi pada akhirnya orang menghakimi orang lain menurut suasana hati dan gaya bahasanya sendiri.

Orang boleh saja berbeda pandangan dan berbeda suasana hatinya,tetapi bila kita mengingatkan tidak perlu menggunakan “okol” ….pakailah kalimat-kalimat yang positip untuk menyadarkan orang tersebut dengan merespon status mereka. Orang bijak akan menyadarkan orang tolol,tetapi okol justru memperlihatkan ketololan kita sendiri.

Sumber: Kompasiana.com