Tjahyo Kumolo dan Pakde Karwo
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Surabaya,(Madura Expose)–Isu Bernas (Benar-benar Panas) saat jelang coblosan Pilpres & Pileg 2019, kabarnya ada reshuffle di akhir masa Kabinetnya Joko Widodo & Jusuf Kalla ini akan memasukkan mantan Gubernur Jatim Dr. HM. Soekarwo yang populer dipanggil Pakde Karwo itu akan duduk sebagai Mendagri menggantikan Tjahyo Kumolo.

Kumolo ini diduga tidak manis dalam kinerjanya, departemen yang dimotorinya itu ‘dihantam’ berbagai isu miring (buruk) sehingga elektabilitas Capres 01 terpengaruh langsung, dan hal ini ditandai oleh tidak dapatnya dukungan dengan hati yang utuh dan maksimal dari publik maupun khususnya kalangan ASN (aparatur sipil Negara) ini.

Sebenarnya, isu Pakde Karwo menjadi Mendagri itu pun bukanlah hal baru dan kejutan, ia memang digadang oleh banyak pihak, juga SBY sendiri di masa ke dua jabatannya sebagai Presiden ke 6 pada sekitar 2012-2013 pun ramai diperbincangkankoleganya.Tetapi, tampaknya Ketua PD Jatim ini ‘terganjal’ oleh pihak-pihak yang ‘gandoli’ agar tetap memangku jabatan Gubernur Jatim untuk 2 kali.

Alasan lain, PD Jatim waktu itu sangat khawatir jika sumbangan kursinya pada Pileg 2009 naik dan 2014 turun drastis? Sebab Jatim lumbungnya Partai yang didirikan oleh SBY.
“Ya, Pak SBY itu orang Pacitan asli,” kata teman wartawan senior, Yunus Supanto.

Dan betul, Pakde Karwo sang penyandang gelar Doktor dari 4 kampus bergengsi itu berkuasa 2 kali selaku Gubernur Jatim dan SBY pun berapresiasi dengan memasukkannya juga di jajaran pusat PD sebagai bagian dari ring 1 partai Demokrat dan tetap pula mangku Ketua PD Jatim.

H. Imam Utomo

Walau pun jauh hari, H. Imam Utomo mantan Gubernur Jatim yang juga 2 kali ini jabat sebelum Soekarwo, Imam mengingatkan keras agar tidak memangku jabatan ketua partai tetapi fokus kepada peningkatan kesejahteraan Rakyat Jatim ini lebih dikonkritkan dan kemiskinan akan berkurang banyak lewat strategi rogramnya APBD untuk Rakyat.

” Pakde akan leluasa mimpin Jatim tanpa beban langsung soal partai, karena hakekat Gubernur itu juga pemimpinnya semua partai di wilayah kekuasaannya, ” urai Imam Utomo suatu hari, orang asli Jombang ini termasuk Tokoh Jatim yang sibuk di dunia PMI itu disegani betul oleh Rakyat dari berbagai lapisan sosial.

Isu bernas reshuffle kabinet dan masuknya Pakde Karwo sempat pula dibahas oleh wartawan senior M. Juhriyanto dalam artikelnya (beredar pula di medsos) yang dikaitkan pula oleh gejala kecemasan petahana dalam Suksesi Pilpres 2019 ini.

Memang elektabilitas Capres 01, nurut gambaran umum berbagai lembaga survey bahwa posisinya lebih unggul dibanding Capres 02 meskipun data faktual yang disajikan belum ada yang menunjukkan data di atas 60% bagi Capres 01(sampai berita ini diturunkan) sehingga kecemasan ini patut diduga melanda kuat nuansa kinerja TKN danTKD Capres 01.

Mengingat potret faktual dari kekalahan jago yang digadang Pdip dalam Pilkada di Jakarta 2017 dan Pilgub Jatim 2018 ini kalah telak semua dengan potret siluet elektabilitas menang tinggi pada awal 2-3 bulan tetapi jelang 2-1 bulan akhir, rasa simpati Rakyat melorot pelan dan pindah ke rivalitasnya maka kalahlah Ahok di Jakarta dan Ipul & Putri di Jatim.

Diduga kuat kekalahan telak itu tak ingin terjadi dalam Pilpres 2019 bagi petahana Capres 01, tapi gejala faktual mulai berlangsung di dua daerah andalan yaitu Jateng dan Jatim yang jadi tolok ukur nasional ini diperkirakan bergeser domin (hijrah) ke 02.

“Kita di Jateng jangan kalah, tegas Ketum Pdip kepada para ‘punggawa’ Pdip saat rapat tertutup di sebuah hotel di Solo, tetapi tidak of the record sehingga banyak online dan medsos melansirnya ke publik.

Sedang Pakde Karwo dihubungi belum ketemu, namun ia sudah antisipasi dengan siagakan komunitas dukungan ke Capres 01 yang diawali oleh perubahan sikap politik PD Jatim. Di mana SBY dan jajarannya membuat keputusan pro 02 tetapi Pakde Karwo bersama PD Jatim pro 01 dengan apologi (dasar alasan) bahwa sekitar 86% Caleg PD Jatim pro 01.

Kini Pakde Karwo bersama HM. Martono mantan ketua Timsesnya dalam Pilgub Jatim 2008 & 2014 itu, sibuk sekali dengan Komunitasnya Jowo (Jokowi Soekarwo) membranding Capres 01.
“Agar berkeringat dan serius dukung,” ujar salah satu kader PD Jatim yang tak ingin disebut namanya.

Manuver Ketua Umum Alumni GMNI, Pakde Karwo itu tampak konsisten dan diduga tak serupa perilakunya kepada Cagub Jatim Gus Ipul yang pada minggu akhir jelang coblosan, Pakde Karwo dadak ubah dukungannya kepada Cagub Khofifah, setelah dengar kabar bahwa Pilgub Jatim akan dimenangkan Khofifah bernomor 1 ini sebelum hari H coblosan, walau sudah buat pernyataan tertulis di depan puluhan Kiai NU Jatim, jauh hari sebelumnya.

Dan ujungnya soal reshuffle itu tergantung kebijakan berlandas nyali dan kejelian sang Petahana dalam sisa masa kuasa periode ini, ya minimal nilai plusnya tentu terendus dini untuk dinamika Pilpres 2019. Tambah teman wartawan lain yang ikut nimbrung dalam diskusi terbatas, isu bernas itu.
(MA.@@)