Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300


Madura Expose. Sejak Presiden Joko Widodo menghimbau untuk seluruh rakyat Indonesia merespon Revolusi Industri 4.0, sektor industri konstruksi juga tentunya akan merespon serius akan hal ini. Namun, perlu dimengerti Revolusi Industri 4.0 pada awalnya berbasis “manufaktur”, sedangkan industri konstruksi berbasis “jasa”. Sehingga ada keunikan yang harus dipahami ketika mengimplementasikan “semangat Revolusi Industri 4.0” ke dalam bisnis jasa konstruksi di Indonesia. Mencermati sejarah Revolusi Industri 1.0 di tahun 1784 yang berbasis Mechanical Production, Revolusi Industri 2.0 di tahun 1870 yang berbasis Mass Production, Revolusi Industri 3.0 di tahun 1969 yang berbasis IT dan Elektronik, Revolusi Industri 4.0 di yang dimulai tahun 2011 berbasis Cyber Physical System-Internet of Things (IoT)-Artificial Intelligence-Big Data, menekankan pentingnya “keterhubungan, integrasi, dan kecepatan” berbagai informasi dan project delivery system.

PERMASALAHAN
Permasalahan yang penting dibahas dari postur Revolusi Industri 4.0 di atas yaitu, bagaimana potret Industri Konstruksi menyikapi Revolusi Industri 4.0? Siapkah Industri Konstruksi Indonesia menyikapi Revolusi Industri 4.0?

INDUSTRI KONSTRUKSI 4.0
Dalam beberapa hasil kajian ilmiah dan di beberapa seminar akademik, tidak mudah Industri Konstruksi Indonesia menyongsong Revolusi Industri 4.0. Isyu “keterhubungan dan terintegrasi” dalam Industri Konstruksi menuntut solusi:

A. Penguatan Kelembagaan.
Kementerian Teknis yang membina Industri Konstruksi adalah Kementerian PUPR RI. Dalam atmosfir Revolusi Industri 4.0 Industri Konstruksi memerlukan kerjasama antar kementerian lainnya. Birokrasi formil akan disederhanakan, peran antar kementerian akan dimaksimalkan.

B. Pembiayaan Proyek
Jelas dicermati, fiskal pemerintah secara khusus dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur berkisar 7%-18%. Dalam hal ini tentunya memerlukan sumber pendanaan dari berbagai pihak. Dalam hal ini tentunya peran swasta dan pihak profesional lainnya terbuka luas untuk “partnering” secara profesional.

HotNews:  Jalan Raya Rusak Parah, Warga Lalangon Tanam Pisang Tengah Jalan

C. Big Data
Big Data secara prinsip melayani 3 “V”, yaitu: Volume, Variety, dan Velocity. Volume dalam Big Data menuntut kemampuan melayani dari sejumlah besar kapasitas data. Sedangkan Variety mencirikan pelayanan data dari berbagai bentuk, baik model data tradisional, images, dokumentasi data, maupun data kompleks. Velocity dalam Big Data menurut Berman (2013) mencirikan data yang sangat kompleks dari berbagai sources dan data yang dinamis. Dalam hal Big Data ini selanjutnya diperlukan “pangkalan data” yang andal. Tentunya hal ini memerlukan komitmen dan kapasitas penampungan data yang teruji dan andal.

D. E-Certification
Kementerian PUPR RI mencatat masih kurang jumlah tenaga ahli yang bersertifikat untuk melayani sejumlah proyek konstruksi yang harus dikerjakan. Sehubungan dengan hal ini, model E-Certification mendukung transparansi, dokumentasi, dan ruang yang cukup besar agar para ahli dapat memiliki Sertifikasi Profesional.

E. Budaya Keselamatan
Suatu keniscayaan, budaya keselamatan mutlak dilaksanakan pada proyek konstruksi. Budaya keselamatan berlaku secara global dan sistemik secara internasional.

Selamat memasuki Industri Konstruksi Indonesia 4.0.

(red)