Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MaduraExpose.com Rendahnya harga garam dikalangan petani membuat sejumlah pihak prihatin dan menilai dinas terkait tidak serius memperjuangkan nasib wong cilik.

Untuk memperjuangkan harga garam petani, sejumlah aktivis pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Garam Sumenep (Gerpas) berunjuk rasa ke Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) setempat. Mereka datang dengan jumlah massa yang terbatas, menuntut adanya langkah kongkrit terhadap pengawasan harga garam di ujung timur pulau Madura tersebut.

“Selama ini garam petani kita hanya di beli dikisara Rp 350 -400 ribu tiap tonnya. Mestinya kalau mengacu pada Permendag, harusnya dibeli dengan harga standar, yakni Rp 750 ribu KW 1”, teriak Nauval, Korlap Aksi Gerpas, Sumenep, Madura, Selasa (30/9/2014).

Sementara Syaiful Bahri, Kepala Disperindag Setkab Sumenep mengatakan, bahwa harga garam ditentukan oleh kualitas garam itu sendiri. Selama ini, lanjutnya, harga garam petani di Kabupaten Sumenep belum ada yang memenuhi target (standart Permendag) dimana NaC1-nya harus

Menanggapi tuntutan Gerpas, kepala Disperindag, Saiful Bahri mengatakan bahwa persoalan harga garam itu tergantung terhadap garam itu sendiri. Ia menuturkan, mulai sejak peraturan menteri perdagangan (Permendag) itu ditetapkan, kualitas garam di Sumenep dan beberapa daerah lainnya belum ada yang mencapai target. Ukuran standar, yang dimaksud Saiful, harga garam KW 1 harusnya Rp 750, dengan catatan Natrium Chlorida tak kurang dari 94,7 dan butiran garam mencapai 4 milimeter.

“Persoalan kualitas garam ini tidak saja terjadi di kalangan petani garam Sumenep. Daerah lain juga banyak yang tidak memenuhi standart”, dalihnya. (Idi/sOl/fer)