Soekarwo, Gubernur Jatim (Foto: Ferry Arbania/Maduraexpose.com)
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

.Pakde Karwo, mengharap para ulama khususnya di Jawa Timur berperan menjaga umat Islam dari ketidakstabilan juga sektor ekonomi.

MADURA EXPOSE—Agama itulah basis dalam pembangunan, beberapa ahli menyatakan kalau basis spiritual dan moralitasnya tidak bagus, tidak mungkin kesejahteraan akan dibangun.

Demikian disampaikan Dr. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur dalam sambutannya ketika membuka acara Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Ulama indonesia (MUI) Jawa Timur ke-IX di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Sabtu, (19/12/2015).

Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo mencontohkan bahwa realisasi investasi di Jawa Timur sampai November ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dari 60% kini hanya 8,9%.

“Saya tanya kenapa? Ternyata karena televisinya setiap hari menyiarkan orang bertengkar,” kata Karwo.

“Suasana Majelis Ulama di Jawa Timur-lah yang membikin suasana dingin,” tambahnya.

Untuk itu, terang Pakde Karwo, dirinya berterima kasih kepada para ulama karena telah turut mengawal stabilitas di Jawa Timur.

“Kenapa saya berterima kasih sama MUI, karena ternyata suasana tenang itu menimbulkan pembangunannya baik. Di Jatim prosentase pertumbuhan ekonominya 5,44 persen, lebih tinggi dari Jakarta yang 4,73 persen,” ungkap Karwo.

“Makanya kemarin Munas MUI nggak mesti di Jakarta tapi di Jawa Timur juga bisa, karena ekonominya baik, jadi mampu,” selorohnya diikuti tawa hadirin.

Namun, lanjut Pakde Karwo, dirinya mengharap para ulama khususnya di Jawa Timur, untuk tidak hanya menjaga umat Islam dari hal-hal yang mengganggu kestabilan. Tapi juga menyasar kepada masalah ekonomi, terutama sektor pertanian dan desa. Dikarenakan 35,67% ekonomi di Jawa Timur ada di pertanian.

“Tapi 35,67 persen itu hanya dapat menghasilkan 14,72%. Permasalahan tentang kemiskinan ini tempatnya di pertanian,” paparnya.

“Untuk itu bagaimana dakwahnya membawa mereka ini, tidak hanya soal agama tapi kesejahteraannya juga. Ini harus diberdayakan, kalau tidak maka akan menjadi kemiskinan yang struktural di wilayah pedesaan,” pungkas Pakde Karwo.*

[HIDAYATULLAH]