Ceramah Maulid di Bali, Bupati Sumenep Bahas Piagam Madinah

0
954
KH.Buysro Karim, Bupati Sumenep saat mengisi ceramah Masulid Nabi di Kuta, Bali bersamaa ribuan masyarakat Pulau Raas (Dok/MaduraExpose.com)

Bali, MaduraExpose.com- Bupati Sumenep KH.Busyro Karim atau lebih karib dipanggil Buya ini mengajak umat Islam di Bali agar tetap menjaga kemajemukan ditengah lingkungan masyarakat yang nota bene bukan mayoritas muslim.

KH.Buysro Karim, Bupati Sumenep saat mengisi ceramah Masulid Nabi di Kuta, Bali bersamaa ribuan masyarakat Pulau Raas (Dok/MaduraExpose.com)
KH.Buysro Karim, Bupati Sumenep saat mengisi ceramah Masulid Nabi di Kuta, Bali bersamaa ribuan masyarakat Pulau Raas (Dok/MaduraExpose.com)

Buya mencontohkan, momentum Maulid Nabi yang digelar oleh ribuan warga Pulau Raas yang tinggal di Bali ini, hendaknya dijadikan kesempatan untuk membangun jalinan persaudaraan antar sesama, meski berbeda agama.

“Dalam sebuah hadits diceritakan, suatu saat ada orang non muslim meninggal. Sahabat terheran-heran melihat Rosulullah berdiri seperti ikut belasungkawa. Sahabat bertanya, kenapa beliau ikut berdiri memberi penghormatan? Lalu dijawab oleh Rosulullah, bahwa beliau menghormati orang itu karena sesama manusia”, demikian KH. Busyro Karim menukil keterangan sebuah hadits didepan jamaah pengajian.

Mantan Ketua DPRD Sumenep dua priode inipun secara panjang lebar memberikan ceramah keagamaan setelah hadirin meminta Buya meneruskan ceramahnya yang disajikan dalam bahasa Indonesia dan Madura.

Bupati Busyro juga menceritakan kepemimpinan Rosulullah dalam menyatukan banyaknya suku-suku arab di Madinah. Dimana jalinan persaudaraan antara kaum muhajirin sebagai imigran Makkah dengan penduduk asli Madinah terus terbangun.

” Kemudian lahirlah Piagam Madinah (shahifatul madinah,Red), sebuah dokumen yang disusun oleh Rosulullah. Didalamnya tertuang perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib ( Madinah) di tahun 622. Dalam dokumen diaur tentang hak dan kewajiban kaum Muslim, Yahudi, dan suku-suku di Madinah. Diharapkan, masyarakat Islam dari Pulau Raas Sumenep hendaknya menjaga persatuan dengan masyarakat Bali yang berlainan agama”, imbunya.

Selain itu, Bupati Sumenep juga menyampaikan terima kasih mendalam kepada ribuan masyarakat Pulau Raas yang sudah bertahun-tahun tinggal dan berbaur dengan masyarakat Bali.

“Masyarakat Pulau Raas yang tinggal di Bali, tetap bagian dari rakyat Sumenep. Hendaknya tetap memiliki tekad mencontoh keteladanan Rosulullah. Salah satunya dengan menghidupkan masjid dengan shalat berjamaah”, imbuh Bupati Busyro dalam ceramahanya didepan Masjid Nurul Yatim, Jalan Merdeka Raya, Kuta Bali.

Untuk diketahui, peringatan Maulid Nabi Muhammad 1436 Hijriyah ini di prakasai oleh pengruus Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan Takmir Masjid Nurul Yatim bersama seluruh masyarakat Pulau Raas yang sudah berpuluh tahun bermukim di Pulau Dewata, Bali. Jumlah mereka sudah mencapai diatas 10 ribu orang.

“Yang mengundang Kiyai Busyro Karim itu adalah masyarakat Pulau Raas yang tinggal di Bali. Saya sendiri penanggung jawabnya Mas. Alhamdulillah, beliau berkenan hadir dan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami”, ujar H.Hemyar, penanggung jawab kegiatan sekaligus Ketua Takmir Masjid Nurul Yatim di Jalan Merdeka IX Abian Base, Kuta, Bali.

(fer/***)
#Sampaikan saran dan informasi Anda ke Redaksi MaduraExpose.com melalui SMS Center 081 934 960 999 atau via email: maduraexposenews@gmail.com.