Puluhan Mahasiswa Sumenep saat mengikuti dialog Pancsila.

Sumenep, MaduraExpose.com- Pancasila yang diyakini sebagai perekat kehidupan bangsa yang heterogen, rupanya dilahirkan kebanyakan dari sosok-sosok penganut agama Islam.

Panitia sembilan yang terbentuk pada 1 Juni 1945 untuk merumuskan pancasila, notabene merupakan umat Islam. Hanya satu yang beragama Kristen, yakni Alexander Andries Maramis.

Delapan tokoh lainnya di antaranya Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin, Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikusno Tjokrosujono, dan Agus Salim beragama Islam. Itu dapat diartikan bahwa pancasila merupakan buah ijtihad umat Islam dalam rangka merekatkan kehidupan bangsa yang majemuk.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar Lembaga Studi Pemuda Pancasila Sumenep (LSPPS) pada Sabtu (27/6). Diskusi yang dikemas dengan buka bersama dan dihadiri sekitar 30 mahasiswa itu juga menyimpulkan bahwa apa pun yang berusaha merongrong nilai pancasila sudah bertentangan dengan ajaran Islam.

Pemateri yang hadir pada kesempatan itu, Ahmad Halimi, memaparkan bahwa pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Justru di dalamnya memuat ajaran berbau Islami. Dia mengetengahkan sebuah cerita tentang nilai Islam dalam pancasila itu.

Seorang kyai besar meletakkan gambar garuda pancasila di depan rumahnya. Pada suatu ketika, kedatangan seorang tamu. Tamu itu bertanya tentang bagaimana cara beragama yang baik menurut Islam. Kiai itu pun menjawab dan menunjuk gambar garuda pancasila miliknya. Kata kyai itu, ketuhanan yang maha esa diartikankepada Tuhan harus punya hubungan baik. Salat yang baik. Puasa yang baik. Kemanusiaan yang adil dan beradab diartikansesama manusia harus baik, bersikap adil, sopan, dan tunjukkan tatakrama.

Selanjutnya, persatuan Indonesia diartikanmenjaga persatuan, jangan mengadu domba, dan jangan mau diadu domba. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diartikan harus bermusyawarah dalam urusan penting. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia diartikan harus berjiwa social, suka menolong, bayar zakat, dan suka sedakah.

“Saya tidak tahu orang mengajar filsafat pancasila. Tapi cara kyai itu mengajarkan pancasila sungguh mengagumkan,” ungkap Halimi.

Sementara salah satu peserta diskusi, Rudi Irawan, mengaku berterimakasih atas dilangsungkannya diskusi itu. Sebab, selama ini kebanyakan warga belum paham benar bahwa para pencetus pancasila kebanyakan beragama Islam.

Menurutnya, pancasila sebagai wujud ijtihad umat Islam untuk Indonesia yang heterogen harus ditelorkan ke semua kalangan, sehingga gerakan apa pun yang mencoba mengikis nilai pancasila dengan mengatasnamakan ajaran tertentu tidak pernah berhasil.

(Rhm/fer)