Pembangunan bagian tengah Suramadu/Istimewa.

MADURAEXPOSE.COM– Pada waktu pembangunan Jembatan Suramadu, terdapat sebagian pekerja dari orang dari Negeri Ginseng (Korea). Agan tau sendiri ‘kan kalau kerja orang sana lebih serius dan punya stamina yg lebih daripada orang kita. Mungkin karena minum ginseng itu tadi. Hampir semua proyek pembangunan berskala besar memakai jasa orang Korea, seperti pembangunan PLTU Pacitan yg kini sedang dibangun juga.

Kembali ke Suramadu.

Nah, yang mungkin tidak diketahui orang-orang umum, orang Korea yang dipekerjakan di Suramadu sebenarnya adalah para narapidana yang hukumannya diatas 15 tahun dan sudah menjalani hukuman sekitar 10 tahun. Mereka dijanjikan bebas oleh pemerintah mereka setelah pembangunan jembatan selesai. Tentu saja mereka bersedia dan senang dengan tawaran tersebut.

Mungkin agan tanya, selama sekian waktu pembangunan jembatan, dimana mereka tinggal? Ternyata mereka diberi tempat tingal di ruangan yang ada di dalam tiang pancang utama Jembatan. Jadi sebelum dibeton, rangka tiang pancang itulah yang menjadi tempat tinggal para pekerja kasar asal Korea tadi. Jumlah mereka tidak banyak, hanya sekitar 20 orang.

Nah, yang mengerikan pada waktu tahap akhir pengecoran tiang pancang yang menggunakan concrete pump, para pekerja Korea yang sedang istirahat tidur siang disiram berton-ton material beton sehingga terkubur hidup-hidup di tiang pancang Jembatan Suramadu. Konon, mereka dijadikan tumbal bagi ‘penunggu wilayah’ tersebut demi lancarnya pembangunan Jembatan Suramadu.

Kisah ini dituturkan oleh pemuda bernama Evan di Facebook miliknya. Ia mengaku berhasil mendapatkan cerita ini dari seorang tetangga-nya yang turut bekerja pada proyek pembangunan Jembatan Suramadu sebagai teknisi listrik.

Proses pembuatan jembatan suramadu/Istimewa.
Proses pembuatan jembatan suramadu/Istimewa.

*
Selain kisah pekerja Korea tersebut, ada juga cerita lainnya.

Pada pembangunannya di tahun 2004, salah seorang pekerja proyek jembatan terpanjang di Indonesia ini yang bernama Saifut meninggal dunia karena tertimpa beton yang patah. Kecelakaan ini disebut-sebut sebagai permintaan tumbal dari penunggu jembatan ini kalau ingin proyek lancar.

Seperti diketahui, musibah itu terjadi ketika korban yang juga warga Peterongan, Jombang, itu sedang bekerja bersama rekan-rekannya untuk memasang balok beton jembatan sepanjang 40 meter. Pada pemasangan balok keenam, posisi balok kurang tepat sehingga menggeser posisi balok lainnya. Keenam balok jembatan yang patah itu berada di antara pilar keenam dan ketujuh jembatan atau sekitar 150 meter dari sisi Surabaya.

[nettiknet/facebook/Redaksi]