Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MADURA EXPOSE—Kalangan seniman dan budayawan di Pulau Madura, Jawa Timur, berupaya mempertahankan bahasa daerah mereka, yakni Bahasa Madura, serta mengenalkan tradisi leluhur kepada anak-anak dan generasi muda melalui seni budaya, karena bidang ini dinilai sangat efektif.

Salah satunya seperti yang dilakukan Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan yang beralamat di Jalan Bhayangkara Pamekasan.

“Ini semata-mata kami lakukan, karena saat ini banyak anak-anak dan generasi muda Madura yang sudah tidak pahan akan seni dan budayanya sendiri, bahkan banyak yang tidak bisa berbahasa Madura dengan baik dan benar, kendatipun mereka merupakan putra-putri orang Madura asli,” kata Ketua Sanggar Seni Makan Ati, Tocil Tanah Garam kepada Antara di Pamekasan,

Kekhawatiran Tocil bersama komunitas pegiat seni budaya lainnya yang tergabung dalam Sanggar Seni Makan Ati, mendorong mereka untuk giat memberikan bimbingan beragam jenis kesenian kepada para generasi muda di Pamekasan yang bernuansa Madura dan menggunakan Bahasa Madura.

Bahkan Tocil rela menjadikan rumahnya di Jalan Bhayangkara Desa Leden, Kecamatan Kota, Pamekasan sebagai pusat latihan seni dan budaya Madura.

Hampir setiap hari, di rumah pria ini selalu ada kegiatan latihan seni budaya Madura, baik untuk latihan seni gamelan, teater, hingga tari tradisional Madura, seperti Tari Rondhing dan Tari Topeng Gethak yang memang merupakan tari tradisional Madura.

“Kami bangga jadi orang Pamekasan, kami bangga berbahasa Madura, dan kami bangga menjadi anggota sanggar seni Makan Ati” adalah motto yang dipajang di sanggar seni pimpinan Tocil Tanah Garam ini.

Oleh karenanya, dalam setiap pementasan seni budaya yang digelar kalangan seniman di Pamekasan selama ini, Sanggar Seni Makan Ati selalu mementaskan seni budaya Madura dengan pemeran anak-anak kecil dan kaun remaja.

HotNews:  Bulan Depan Dinas PRKP dan Cipta Karya Garap Proyek Rp 57 M.

Seperti halnya pada pagelaran seni budaya “Pangghung Buddhaja I/ artinya, Panggung Budaya I” yang akan digelar pada 26 Desember 2015 di Pendopo Ronggosukowati Pamekasan.

Menurut Tocil, pageran Seni Budaya Madura yang akan digelar di Pendopo Pemkab Pamekasan itu, terdiri dari empat jenis pertunjukan seni budaya Madura dan semuannya menggunakan Bahasa Madura.

Keempat jenis pertunjukan itu meliputi, “Tari Neter Kamoljhaan” yakni tari penyambutan tamu yang diperankan oleh anak-anak kecil tingkat sekolah dasar, Tari Rhonding, seni pertunjukan kolosal dan lagu-lagu Madura.

“Kami yakin melalui seni budaya ini, maka Bahasa Madura akan kembali diminati oleh masyarakat Madura, termasuk masyarakat Pamekasan dan akan benar-benar menjadi bahasa yang dibanggakan oleh masyarakat Madura itu sendiri,” katanya.

Sebelumnya, Budayawan Madura D Zawawi Imron mengakui, Bahasa Madura memang cenderung terancam punah, karena banyak orang tua yang tidak mau mengajarkan anak-anaknya Bahasa Madura.

Zawawi bahkan meminta agar pembelajaran Bahasa Madura di berbagai tingkatan pendidikan, hendaknya digencarkan, termasuk di Perguruan Tinggi yang ada di Pulau Garam itu. [bsn]